Wednesday, June 24, 2020

PUSAKO TINGGI - ADAT MINANGKABAU

Pusako Tinggi di Minangkabau, sebuah tinjauan praktis

Dalam Adat Minangkabau, harta yang diwariskan terbagi menjadi 3 bagian :

  1. Pusako Tinggi, harta yang diwariskan berdasarkan garis perempuan (matrialchaat/matrilineal)
  2. Pusako Randah, disebut juga Harato Suarang, adalah harta hasil pencaharian kedua orang tua yang diwariskan berdasarkan Hukum Waris Islam (faraidh)
  3. Sako jo Pusako, harta yang berkaita dengan Gelar Adat, diwariskan dari Mamak ke Kemenakan

Kita akan membahas tentang Pusako Tinggi saja, nomor 2 dan 3 insya Allah akan kita bahas dilain waktu.

Latar Belakang

Pusako Tinggi adalah salah satu keunikan Adat Minangkabau, sudah sejak dahulu menjadi sumber masalah, mulai dari perkara tingkat kampung sampai perkara tingkat Mahkamah Agung. Mengapa demikian? Keunikannya membuat banyak yang tidak memahami hakikat dari Pusako Tinggi tersebut, bahwa nenek moyangnya sudah menyiapkan bagi keturunannya harta, agar tidak ada yang kelaparan. Pusako Tinggi juga merupakan sebuah Mahakarya nenek moyang Minangkabau dalam perspektif menjaga generasi selanjutnya dalam menghadapi dunia yang tidak dikenal dimasa depan.

Walau begitu tidak sedikit pula yang menentang, bahkan Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi putra Minang yang menjadi Imam Besar dan Khatib Masjidil Haram mempermasalahkan hal ini. Beliau menyanggah bahwa system waris Pusako Tinggi bertentangan dengan hukum waris Islam (faraidh), dimana waris anak laki dan perempuan adalah 2 : 1. Sementara adat Minangkabau berlandaskan “adat basandi syarak dan syarak basandi Kitabullah”.

Dasar Hukum Pusako Tinggi

Setelah gejolak yang tak terlihat bagaikan arus dalam dipermukaan tenang. Akhirnya para tokoh dan ulama mulai melakukan legitimasi agar tidak terjadi kekacauan. Dimulai dari Syaikh Abdul Karim Amrullah (ayah dari Buya HAMKA) yang juga murid dari Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi mengeluarkan fatwa bahwa : “Harta Pusako beda dengan harta pencaharian dan sama dengan harta wakaf dengan dalil qias pada harta musabalah di masa Khalifah Umar bin Khattab yang digunakan untuk kepentingan umum”. Pendapat yang sama disampaikan oleh Syaikh Sulaiman Arrasuli yang juga murid Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.

Selanjutnya dalam Kongres Badan Permusyawaratan Alim Ulama, Ninik Mamak dan Cerdik Pandai Minangkabau pada tanggal 4 – 5 Mei 1952 disepakati bahwa untuk Pusako Tinggi berlaku Hukum Adat dan untuk Harta Pencaharian berlaku Hukum Islam (faraidh).

Seminar Hukum Adat Minangkabau yang digelar pada 1968 mempertegas rumusan kesimpulannya menjadi dua poin.

Pertama, terhadap harta pencaharian berlaku Hukum Faraidh, sedangkan terhadap harta pusaka berlaku Hukum Adat. Kedua, berhubung IKAHI Sumbar ikut serta mengambil keputusan dalam seminar ini, maka seminar menyerukan kepada seluruh hakim-hakim di Sumbar dan Riau supaya memperhatikan ketetapan seminar ini.

Akibat Hukum pada Pusako Tinggi

Dari keterangan diatas terlihat bahwa semua pihak mulai dari Ninik Mamak, Alim Ulama, Cerdik Pandai bahkan para Ahli Hukum sepakat bahwa untuk Pusako Tinggi berlaku Hukum Adat. Lalu Hukum Adat yang seperti apakah? Bila kita kembali ke fondasi dasar Adat Minang “Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah” yang merupakan “Lex Superior”, maka jelas Pusako Tinggi adalah “Harta Wakaf”

Berdasarkan hal tersebut maka Pusako Tinggi sebagai harta wakaf adalah harta yang akan berlindung dibawah UU Wakaf No. 41 Th 2004 yang melarang harta wakaf untuk :

a.    dijadikan jaminan;

b.    disita;

c.    dihibahkan;

d.    dijual;

e.    diwariskan;

f.     ditukar; atau

g.    dialihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya.

Adapun ketentuan pidana yang diatur dalam UU No. 41 adalah :

Pasal 67 ayat (1) UU Wakaf sebagai berikut:

“Setiap orang yang dengan sengaja menjaminkan, menghibahkan, menjual, mewariskan, mengalihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya harta benda wakaf yang telah diwakafkan sebagaimana dimaksud dalam Pasat 40 atau tanpa izin menukar harta benda wakaf yang telah diwakafkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 500 juta.”

Demikianlah sedikit analisa praktis tentang Pusako Tinggi di Alam Minangkabau, bila ada kesalahan saya mohon maaf dan kepada Allah Ta’ala saya mohon ampun dan bila ada kebenaran dalam tulisan diatas semata-mata karena kemurahan Allah Ta’ala saja.

Wallahul Musta’an wa Allahu Yahdikum

Wass

------- ilalang -------

 


Thursday, June 11, 2020

Ketika Doa Tak Terjawab

Bismillahirrahmanirrahim..

Saudara dan sahabat tercinta Rahimakumullah..

Sepanjang perjalanan pagi ini, setelah sekian lama vakum, otak saya kembali berputar-putar menemani perjalanan. Kali ini materi yang dilontarkan adalah : ‘mengapa do’a tak terjawab?”.

Mungkin rasa penasaran ini timbul akibat terbayang ujung sebuah doa yang bunyinya “ aku berlindung kepada Allah dari - da’watin la yustajabullaha - dari doa yang tak terjawab”, ngeri kali yaa..

Tidak usah jauh-jauh, kita hanya akan membahas seputar doa ini aja, karena ini doa pendek dan sangat mungkin saling berkaitan antara satu kalimat dengan kalimat lain. Mari kita lihat satu persatu.

Allahuma inni(na) a’udzubika

Ya Allah aku berlindung kepadaMu

1.       Min Ilmin laa yanfa

Dari ilmu yang tak bermanfaat. Bila kita ambil opposite/lawan nya, maka jika ilmu yang kau rasa sudah sangat tinggi itu membawa mudlarat, membuatmu merasa hebat/sombong, membuatmu gampang menghina orang lain, membuatmu gampang menyakiti orang lain, membuatmu merasa orang lain bodoh atau salah atau tak mampu dan lainnya. Maka tak usahlah berdoa.

2.       Min Qalbin laa yakhsa

Dari hati yang tidak khusuk. Bila saat berhadapan dengan Illahi Rabbi, hatimu masih saja berkelana, tak pandai merasa sedang berhadapan dengan Yang Maha Segalanya. Saat berhadapan dengan Pemilik Alam Semesta kau masih saja memikirkan kepala negara, kepala daerah, tagihan PLN, tagihan hutang dll, tak pandai merasa bahwa dalam Akbar Nya semua musnah, tak pandai merendah-rendahkan diri dihadapan Sang Raja Diraja. Maka tak usah berdoa.

3.       Min Nafsin laa Tasyba

Dari Jiwa yang tak pernah puas. Duh… dari terjemahnya saja kita sudah meringis, kenapa? Karena itulah kita, dikasih betis mau paha. Kita selalu tak pernah puas, sehingga jauh kita dari rasa syukur, jauh kita dari kenikmatan yang Allah Ta’ala limpahkan, semua jadi kurang, semua jadi salah, semua jadi tak benar. Kenapa? Karena jauh kita dari rasa cukup, jauh kita dari rasa puas atas apa yang sudah Allah Ta’ala tetapkan sebagai yang terbaik bagi kita. Maka tak usahlah berdoa.

4.       Wamin wa’datin laa yustajabullaha

Dari doa yang tak terjawab. Nah ini sebenarnya pokok permasalahan yang menjadi pemicu tulisan ini. Sedih, sedih betul kita bila Dzat Yang Maha Segalanya, yang senantiasa mencurahkan Arrahman dan Arrahim, yang selalu mengampuni, yang selalu memilihkan yang terbaik buat kita. Tak mau menjawab doa kita diantaranya karena 3 hal diatas. Na’udzubillah tsumma na’udzibillah

Demikian saudara dan sahabat tercinta, semoga bermanfaat di hari yang mulia ini, bila tak berkenan saya mohon maaf, kepada Allah Ta’ala saya mohon ampun.

Wallahul Musta’an wa Allahu Yahdikum

Wassalam

------- ilalang -------

 


Monday, June 8, 2020

Raden Fatah, dalam sebuah diskusi hangat





Bismillahirrahmanirrahim.

Telah berlalu beberapa hari dilangsungkan Seminar Online tentang " Mengupas Sejarah Raden Fatah". Suatu kehormatan pula bahwa saya dapat hadir dan mengikuti acara tersebut yang tentunya sarat dengan informasi sejarah yang dikupas oleh ahlinya.

Layaknya sebuah diskusi, maka tentu terdapat beberapa adu argumen untuk mencari solusi atas permasalahan yang dibahas. Sebagai penggemar sejarah yang bertumpu pada pranala umum atau informasi yang umum ketahui, maka diskusi kemarin sangatlah menarik. Terutama karena beberapa anggota diskusi tidak hanya terkait secara geography (gemeinschaaft by place) akan tetapi juga terkait secara emosional yang mungkin akibat adanya hubungan nasab/darah (gemenischaaft by blood).

Sebagai orang awam dan hanya penggemar sejarah, diskusi ini secara tegas membuat sebuah versi baru lagi tentang tokoh besar di masa lalu yang bernama Raden Fatah. Kaena itu saya coba untuk mengurai perbedaan sebagai berikut :

1. Pranala Umum

    Bahwa Raden Fatah adalah anak Brawijaya V (Bhre Kertabhumi / Khung-Tu-Bhu-Mi dalam cerita Kuil Sam Po Kong). Lahir dari Ibu bernama Siu Ban Chi yang merupakan selir Brawijaya V, karena dicemburui oleh Permaisuri, maka selir ini dihadiahkan kepada Arya Damar yang waktu itu berkuasa di Palembang atas nama Majapahit, saat berangkat ke Palembang beliau dalam keadaan hamil.Setelah melahirkan Raden Hasan atau Jim Bun yg kemudian dikenal sebagai Raden Fatah, beliau dinikahi Arya Damar dan dari pernikahan teersebut lahirlah Raden Husen atau Kin San yang kemudian dikenal sebagai Adipati Terung, dst...dst

2. Pranala Baru

    Informasi baru tentang Raden Fatah ini berbeda jauh dengan versi umum, namun karena disampaikan oleh para ahli yang memegang naskah lama (belum diketahui umurnya), maka patut hendaknya kita dukung dengan mencari data-data sekunder yang berkaitan.

    a. Dalam informasi baru ini, Raden Fatah disebutkan sebagai anak dari Sayyid Umadtuddin Abdullah Al Khan dan Ibu Syarifah Zaenab binti Ibrahim Zaenuddin Al Akbar. Dalam sessi yang sama terdapat pula informasi bahwa ayah beliau adalah Maulana Abdullah, kemudian ada info lagi bahwa ayahnya adalah SIR RAH ALAM, mungkin saja semua itu menunjuk kepada orang yang sama.

    b. Selanjutnya info tentang Zaenab  binti Zaenuddin Al Akbar Asmorokandi yang juga ayah dari Sayyid Murtadho, Sunan Ampel dan Maulana Ishak. Disini terdapat beberapa perbedaan yang cukup mendasar dengan pranala umum. Maulana Ishak adalah saudara dari Maulana Malik Ibrahim (disebut juga Syaikh Ibrahim Asmorokandi - karena berasal dari Samarkand, lidah Jawa menyebut As-Samarkandi menjadi Asmorokandi), lalu Maulana Malik Ibrahim berputra Rd Rahmad (Sunan Ampel/Bong Swi Ho) dan Sayyid Ali Murtadho. Diperlukan lebih banyak literasi dari berbagai rujukan agar mendapatkan cerita yang sesungguhnya.

    c. Informasi tentang Arya Penangsang yang datang ke Sumatera Selatan bersama adiknya Arya Mataram (berbeda dengan pranala umum dimana Arya Penangsang dikisahkan gugur ditangan aliansi Hadiwijaya/Jaka Tingkir - Sutawijaya dalam perang Demak-Pajang) perlu juga ditambahkan sumber-sumber dan rujukan lain agar membuat kisah sejarah ini menjadi terang benderang.

3. Hipotesa
    Diskusi menarik pada malam itu membuahkan hipotesa yang berupa argumen-argumen dengan bukti pendukung yang disampaikan oleh para pemantik. Beberapa pertanyaan bahkan belum terjawab karena terbatasnya ruang dan waktu. Diperlukan kajian-kajian yang lebih dalam disertai pembuktian secara empiris agar hipotesa yang disampaikan dapat dijadikan sebuah kesimpulan yang valid dan tak terbantahkan. Bila hasilnya harus merubah sejarah dalam pranala umum, itu merupakan buah manis yang menjadi sumbangan kita semua bagi generasi selanjutnya.

Akhirnya terima kasih tak terhingga kepada KAJAH yang telah melakukan satu langkah indah dalam dunia sejarah di Indonesia, terima kasih pula kepada para ahli yang telah bersedia menjadi pemantik, juga terima kasih kepada semua pencinta sejarah yang telah mengikuti diskusi. 

Semoga Alla Ta'ala mencurahkan kepada kita semua cahaya yang terang benderang, agar dapat menyibakkan kegelapan dan menyusuri jalan yang diridhoi, aamiinn.

Wallahul Musta'an wa Allahu Yahdikum
Barakallahu li w alakum
Wassalam 

------- ilalang ------- 



Thursday, April 9, 2020

Sentot Alibasyah dan Paderi

Bismillahirrahmanirrahim ....

Sentot Alibasyah dan Paderi

Sentot dengan pasukannya berangkat ke Minangkabau pada tahun 1832 yaitu tiga tahun setelah dia meninggalkan junjungannya Pangeran Diponegoro.
Sampai di Minangkabau dia telah memasuki medan perang, sampai ke Matur, sampai ke Lima puluh Kota, bahkan kabarnya konon sampai ke Airbangis! Tetapi tidaklah selalu berhasil usaha menjauhkannya dengan Paderi, sebab dia bebas berperang melawan Paderi! Alangkah terkejutnya beliau, bila didengarnya azan di medan perang, bahkan lebih lantang daripada suara tentaranya sendiri!
Sama-sama terkejut. Rupanya dalam tentara dari Jawa yang dikirim Belanda, ada pula orang berserban, orang yang mengerjakan "Sholatil Khauf" di medan perang! Sebagai juga mereka, orang Paderi.
Sama-sama terkejut! karena di sini memakai serban, di sana pada memakai serban! Lama-lama bagaimanapun Belanda menjaga, kontak bertambah rapat!

Rupanya pakaian sama, hati sama, kepercayaan pun sama, cita-citapun sama! Mengapa kita jadi berperang!
Sentot yang masih muda, baru berusia 27 tahun sangat terharu. Teringat kembali junjungannya yang telah diasingkan Belanda, dan dia turut mempercepat kekalahan beliau. Timbul tekanan bathin yang amat hebat. Timbul keinginan hendak memperbaiki kesalahan yang telah terlanjur dengan berbuat suatu jasa yang besar!

Dalam kalangan orang Minangkabau, sedang tumbuh keinsafan! Kaum Paderi berkelahi dengan Kerajaan Minangkabau. Padahal Kerajaan Islam. Selama ini mereka diadu. Mereka diadu untuk kepentingan Belanda! Mereka yang akan habis. Belanda yang akan mendapat untung.
Bertemu cita Sentot dengan cita Paderi dan dengan cita Kerajaan Minangkabau!
Hubungan dirapatkan, sehingga khabarnya konon, Tuanku Imam Bonjol sendiri, walaupun telah tua, pernah mengadakan pertemuan rahasia dengan Sentot!
Siapa yang mengatakan orang Minangkabau membenci orang Jawa? Siapa saja diterima, asal memperjuangkan Islam: Begitu kini dan begitu sampai akhir dunia!
Putus mufakat, Kaum Paderi dengan Kaum Adat akan berdamai, dan Sultan Alam Muning Syah, Raja Minangkabau yang telah diberi pangkat Regen oleh Belanda, sudi mengangkat Sentot menjadi Yang Dipertuan Besar! Sebab dia pun memang asal raja! Dan dia pun Alim! Dan gagang bedil akan dihadapkan bersama-sama kepada Belanda. Surat raja Minangkabau kepada raja-raja di pesisir dikirim, membangkitkan semangat buat melawan ....

Tetapi spion Belanda akhirnya mengetahui maksud besar ini. Belanda lekas mengambil sikap sebelum terlambat!
Yang Dipertuan Minangkabau, Muning Syah, yang bergelar Sultan Alam Bergagar Syah dipanggil ke kantor Belanda lalu ditawan dan dibuang ke Betawi! Banyak serpih belahannya yang masih ada sekarang, di antaranya R.B.Sabaroeddin dan Mr. Syafruddin Prawiranegara, S.H.!
Sentot dan pasukannya lekas-lekas di "consunyir", lalu lekas disuruh bersiap untuk diberangkatkan kembali ke Betawi pula. Dan tidak berapa lama kemudian, Basyah Sentot Abdul Mustafa, diasingkan ke Bengkulu, dan di sanalah Pahlawan itu menutup mata! Tidak jauh dari kuburnya, ada sebuah bukit ber nama "Tapak Paderi”.

Imam Bonjol dan kawan-kawannya meneruskan perjuangan.
(dikutip dari "Perbendaharaan Lama" karya HAMKA)
semoga bermanfaat
Happy Sayyidul Ayaam

------- ilalang -------

Riya' - 2

Bismillahirrahmanirrahim .......

Riya (bagian 2)

Kadang-kadang kita ingin terlihat oleh orang yang tidak kita kenal. Misalnya di masjid, kita datang sendiri. Ketemu banyak orang di sana. Lalu, sesuai dengan pesan yang pernah kita dengar dari syaikh, "Perbanyak shalat sunah, atau sunah rawatib," kita lantas shalat. Tetapi, shalat itu kita perindah, dipercantik oleh kita, dengan harapan kita dilihat orang lain. Saat itu, hati kita sudah menyeleweng, karena kita ingin dipuji orang di masjid, betapa indah shalat kita. Padahal, belum tentu orang di masjid perduli, karena masjid memang tempat shalat. Hati kita sudah menyeleweng, itu riya juga. Maka obatnya adalah, "Mengapa kita harus memper-dulikan makhkluk itu?" Shalat kita adalah urusan kita dengan Allah SWT. Tidak ada urusan makhluk untuk memuji atau mencaci kita, karena caci maki makhluk, maupun pujian mereka, "hanyalah sebuah suara saja di alam semesta." Kadang-kadang, mungkin karena kebodohan makhluk itu, dia memuji kita, padahal kita orang bejat di atas bumi ini. Sebaliknya, kita harus ridha kalau ada orang mencaci, karena kita pantas dicaci maki, karena kerendahan maqam kita, karena ketidak-mengertian kita, karena memang kita hina. Jadi, kalau ada orang yang mencaci maki kita, mengapa harus bangkit kemarahan kita?
Sekarang coba perhatikan jenis-jenis riya yang lahiriah, yang mudah saja. Seseorang yang riya, misalnya, sudah barang tentu dia sangat terkait erat dengan dunia. Itu dulu yang harus kita perhatikan. Dia juga sangat membanggakan dunia, dan sangat kagum terhadap isi dunia, termasuk kagum kepada dirinya sendiri. Bila seseorang riya pada badannya sendiri, ketika pergi ke luar rumah, hatinya me-ronta-ronta ingin memperlihatkan kepada orang Iain kalau dia adalah si tampan. Kalau perempuan, dia ingin bilang dirinya sebagai si cantik. Itu sebuah rasa saja. Cara jalan orang itu diperindah, dengan harapan orang yang melihat dia tahu bahwa dia lebih dari yang lain. Padahal orang lain belum tentu melihat dia seperti itu. Itulah riya yang berhubungan dengan badaniah.
Lalu yang kedua, yang masih ada di dalam tubuh seseorang, yakni pakaian. Bila dia mengenakan sesuatu, hatinya lalu menyeleweng, ingin mengabar-kan, berbicara, "Hai makhluk yang bertemu dengan aku, engkau perhatikan, aku pakai baju baru dan model terbaru. Perhatikan, aku pakai sesuatu yang tidak dipakai orang lain. Aku pemakai pertama kali yang orang lain belum pernah pakai." Perasaan ini banyak hinggap di dalam hati ibu-ibu. Tetapi tidak sedikit juga yang ada di dalam hati bapak-bapak. Orang yang seperti itu, bila memakai sesuatu yang bermerek bagus, dia merasa bangga. Dia bukan ber-bicara tentang kualitasnya yang bagus, yang akan terpakai lama sekali, bertahun-tahun. Seseorang memang boleh membeli barang seperti itu, yang berharga mahal. Tetapi, bila hatinya menyeleweng dan berbangga atas harga barang, pakaian, ketampanan, kecantikan, bentuk rambut, atau apa pun, itu adalah riya. "Riya akan menghapus berbagai macam celengan amal-amal kita." Amal menjadi gugur karena pameran lahiriah dan badaniah. Kalau begitu, mengapa kita tidak merendah saja?
Ada lagi orang yang suka pamer tentang pangkat-pangkat. Itu lebih jelek lagi, lebih parah dari yang biasa. Tanda-tanda orang mencintai pangkat, gelar, sebutan-sebutan, adalah bila disebut namanya tanpa disebut pangkat atau gelarnya, hatinya tersinggung. Bahkan ada yang sampai menulis surat pun, rasanya kurang lengkap kalau dia tidak mencantumkan gelar yang dibanggakannya itu. Padahal, yang membaca surat seperti itu mungkin merasa sebal.
Semua itu adalah perasaan-perasaan. Semuanya adalah kebanggaan semu. Semuanya adalah keinginan diketahui sesama makhluk, agar dirinya merasa lebih tinggi dari makhluk lawan bicaranya. "Itulah sebuah kekurangajaran di hadapan Allah SWT karena dia ingin dipuji makhluk, melupakan Allah SWT dan tidak berharap dipuji Allah SWT dengan banyak memuji-Nya." Maka kepada golongan ini, nabi bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada riya sezarrah saja." Sedikit riya, sedebu riya, seseorang tidak bisa masuk surga. Betapa riya ini dalam kitab-kitab disebut sebagai racun yang amat berbahaya.
Adakah riya yang lebih berbahaya daripada itu? Ada. Riya tentang sesuatu yang membersit di dalam hati. Karena akar riya sesungguhnya dari dalam hati, saat kita berikan sesuatu, kita ingin diketahui orang lain kalau kita beri si miskin. Ketika memberi kepada orang lain, bahkan nyaris kita tanyakan untuk beroleh pengakuan dari orang yang kita beri. Itu keadaan manusia, itu lebih berbahaya.
Mungkin ada yang bertanya lagi, "Syaikh, adakah yang lebih berbahaya tentang riya?" Ada. Yang lebih jahat lagi, lebih durjana lagi. Apa itu? Riya dalam peribadatan-peribadatan. Orang yang beribadat, dengan mempertunjukkan, dengan mempertonton-kan kepada orang lain seolah-olah dia adalah ahli ibadah yang amat tinggi ilmunya; orang alim. Dia tunjukkan kepada orang lain bahwa dirinya orang berilmu tinggi dan alim, dengan mempertontonkan apa? Dia sudah mengaitkan sesuatu yang berbahaya. Dia hafalkan hadist. Dia hafalkan ayat Al-Quran, yang dia sampaikan kepada orang lain agar mereka menyebut dia orang pandai, orang alim, hafal hadist, hafal al-Quran. Padahal, saat dia berbicara hatinya bergerak ingin diketahui makhluk dan punya harapan ingin dipuji lawan bicara di hadapannya.
Adakah yang paling jahat dan lebih jahat lagi? Ada. Dialah riyanya orang yang berilmu, riya para ulama. Dia mengaku ulama tetapi mempertontonkannya sambil berharap akan pujian-pujian. Dia mengharap dan menjual ilmunya dengan sesuatu keduniawian yang sedikit. Lalu dia berpura-pura, menebarkan kemunafikan kepada orang banyak, bahwa dia berilmu tinggi. Maka, orang lain menyebut dia ulama, yang sesungguhnya kejahatannya lebih dari orang biasa. Itulah dia riya yang paling tinggi dan paling sulit dilepaskan, riya yang bercokol di hati ulama.
Bagaimana cara kita melepaskan diri dari riya? Yang pertama harus dikerjakan adalah dawamum dzikri. Terus menerus dalam keadaan dzikir, agar manakala hati kita sedang nyeleweng ingin dipuji makhluk, kita kembali kepada Allah SWT. Kita tidak perdulikan makhluk yang memuji atau mencaci. Kita meneruskan peribadatan, seperti ketika sedang bermunajat, "Hanya Engkau yang kumaksud, bukan makhluk. Ridha-Mu yang aku harapkan, bukan pujian dari makhluk.” Setelah itu, kita menjaganya agar kita tidak bernasib seperti orang yang tidak pernah menjaga hatinya dari pekerjaan riya. Semoga Allah SWT melindungi kita, lalu memaafkan kita. Bila terbersit dalam hati ada riya sezarrah pun besarnya, semoga Allah SWT menghapuskannya dan menerima amal ibadah kita yang bersih dari riya.
(Maqolah Syaikh Waasi' Achmad Syaechuddin ra, dari Tausiah "Riya Racun Berbahaya)
semoga bermanfaat
------- ilalang -------

Riya' - 1

Bismillahirrahmanirrahim...

Riya

Ini tentang riya (pamer), yang bisa menghapus segala amal kita. Bila kita berpulang ke hadirat Allah SWT masih membawa riya ini, maka disebutkan dalam satu hadist, "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada riya sezarrah saja." Celakalah kita. Hadits yang lain “la yadkhulul jannata man kaana fii qolbihi mitsqoolu dzarrotin min kibrin” tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebiji dari sifat sombong. Semoga kita tidak termasuk itu, kita yang sedang berjalan membersihkan penyakit hati. Termasuk penyakit hati yang sangat berbahaya adalah riya dan sombong.
Ujub, riya, sum’ah, takabur itu 'bersaudara', bertali erat, sangat berbahaya. Jauhkan itu semua dari hati kita. Gugurkan semua itu dari hati kita dengan membiasakan diri banyak berdzikir kepada Allah SWT, lalu singkirkan keinginan untuk dilihat makhluk bahwa kita sudah berbuat kebaikan.
Riya, dalam bahasa Arab berasal dari kata ru’yah, yang artinya menampakkan, riya adalah memperlihatkan suatu amal kebaikan kepada sesama manusia. Jadi dalam hati kita, ada sesuatu yang kita sendiri apabila berbuat kebaikan, ingin dilihat orang Iain, ingin diketahui orang Iain. Dialah sesuatu yang meronta-ronta yang ada dalam hati kita. Bila kita sudah melakukan kebaikan-kebaikan, berupa peribadatan lahiriah maupun bathiniah, dia ingin dipenuhi tuntutannya, "Ayo beritakan kepada orang lain, engkau telah berbuat baik, engkau telah beribadat." Ini harus dihapus dari dalam hati, karena riya merupakan racun yang berbahaya dalam peribadatan kita. Karena dapat menghapuskan amal kita di hadapan Allah SWT. Betapa bahayanya itu, kalau kita tidak pernah memperhatikan seluk beluk hati dengan riya, ujub, sum'ah, takabur dan sebagainya, lalu tidak pernah menghapusnya. Bila kita tidak pernah mewaspadainya, maka terlalu banyak peribadatan-peribadatan yang akan terhapus, karena diberitakan kepada orang lain, sekalipun orang itu tidak menanyakan tentang peribadatan tersebut.
Dorongan untuk memberitakan kepada orang lain itu dibawa oleh setan. Setan bercokol dalam hati, ingin mendorong untuk memberitakan kebaikan yang kita kerjakan. Ini hakekat daripada riya, selalu meronta-ronta di dalam hati ingin kita pamerkan kepada orang lain kebaikan dan kelebihan diri kita.
Kalau hati kita meronta-ronta ingin memberitakan kebaikan kita kepada orang lain, maka segara hapus itu dan agar orang lain tidak patut mengetahui peribadatan kita. Urusan peribadatan kita hanya antara kita dengan Allah SWT saja.
(Maqolah Syaikh Waasi' Achmad Syaechuddin ra., dari Tausiah "Riya Racun Berbahaya")

Semoga bermanfaat

------- ilalang -------

Istidraj

Bismillahirrahmanirrahim......

Istidraj

Ada lagi jenis orang-orang pendosa sejati, yang diberi kemurahan oleh Allah SWT, lalu hatinya berbicara, “Ohh, itu dia karunia Allah SWT kepadaku. Inilah kasih sayang Allah SWT yang diberikan kepadaku" Orang yang seperti itu tertutup hatinya. Dia bukan orang yang mengaku banyak dosa, tetapi merasa dia sudah menjadi orang suci. Dia merasa dirinya sudah memiliki ilmu yang tinggi. Dia merasa kalau apa-apa yang diterimanya dari Allah SWT itu berkat doa-doanya, lalu dia bilang bahwa dirinya hebat. Ini adalah istidraj.
Allah SWT memberikan sesuatu tetapi menghinggapkannya sebagai hukuman. Allah SWT menutup hatinya karena kejahatannya. Dia merasa suci, merasa orang benar, padahal dia sedang dihukum Allah SWT. Dia dinaikkan pangkatnya, diberi banyak harta, padahal itu semua adalah hukuman agar hatinya gelap. Dia tidak berurusan dengan Allah SWT. Allah SWT menyelipkan istidraj.
Yang lebih jahat lagi, orang itu berbuat jahat kepada Allah SWT dan lalu Allah Taala sisipkan kemunafikan di dalam dirinya. Lalu dia berdakwah ke mana-mana bagaikan orang suci. Dia pandai bicara kepada orang lain, berbicara di televisi, mengajak orang lain banyak beribadah, padahal dalam diri orang itu tidak ada peribadatan yang bernilai tinggi di mata Allah SWT. Dia menukar ilmunya dengan sesuatu yang bersifat duniawi, yang sejak dari rumah memang sudah diharap-harapkannya. Itu jelas bukan peribadatan. Itu istidraj. Orang-orang alim mengerti tentang istidraj ini, memahami seluk beluknya. Sebagaimana para sufi  mengatakannya begini, "Manakala engkau datang kepadaku, aku sudah mencium bau nafasmu."
Untuk menghindari istidraj ini, tidak lain yang bisa dilakukan kecuali dawamu dzikri, dawamu ubudiyah. Perbanyak dzikir, perbanyak peribadatan, agar kita dipelihara oleh Allah SWT, agar Allah SWT memberi kebaikan saja, bukan hukuman. Agar Allah Ta'ala menyisipkan daya sesal yang berkepanjangan kepada kita.
Mudah-mudahan Allah SWT memberi khauf (takut) yang sebenar-benarnya dan dijadikan-Nya kita ahli ibadah. Semoga semua ini juga diturunkan kepada anak cucu kita. Aamiinn.
(Maqolah Syaikh Wassi' Achmad Syaechudin ra, dari Tausiah "Takut, Tobat dan Istidraj")
Semoga bermanfaat dan Happy Sayyidul Ayaam
------- ilalang -------

Sejarah

  Bismillahirrahmanirrahim… Sejarah Sejarah adalah cerita tentang masa lalu, bisa jadi tentang kebaikan atau keburukan, kemegahan atau k...