Ardi Tamin
Nothing Impossible
Sunday, August 16, 2026
Kumpulan buku cantik
ET VIVO
Enam Anak Pinggiran yang Menulis Ulang Peta Dunia
Sejarah tidak ditulis oleh pemenang. Sejarah ditulis oleh orang yang bisa menulis. Pinggiran tidak menulis. Pinggiran menyerbu.
Enam nama yang tidak diajarkan di sekolah sebagai pahlawan. Mereka bukan pendiri, bukan nabi, bukan filsuf. Mereka adalah pinggiran — yang datang ketika pusat sudah busuk, dan menulis ulang peta bukan dengan tinta, tapi dengan kuda, pedang, dan kelaparan.
Mereka punya satu kesamaan: mereka datang dari luar. Goth dianggap barbar oleh Roma. Hun dianggap monster oleh Goth. Berber dianggap pinggiran oleh Arab. Kurdi dianggap orang gunung oleh Arab. Uriankhai dianggap orang hutan oleh Mongol. Kipchak dan Khwarazm dianggap barang dagangan di pasar budak Kairo.
Et Vivo — dan mereka masih hidup. Bukan tubuhnya. Tapi petanya. Garis-garis batas yang mereka tarik dengan darah masih kita tinggali hari ini.
I. Alaric
Selama 800 tahun tidak ada musuh yang menginjakkan kaki di dalam tembok Roma sebagai penakluk. Kota itu menyebut dirinya Urbs Aeterna — Kota Abadi. Abadi, sampai seorang bocah Goth yang dibesarkan di barak Romawi memutuskan bahwa janji itu bohong.
Alaric tidak ingin menjadi penghancur. Ia dibesarkan sebagai foederatus — anak angkat Romawi. Ia pernah berperang di bawah panji Theodosius. Ia berbicara Latin fasih, mencintai Virgil. Yang ia minta hanya satu: sebuah tanah yang sah untuk bangsanya di dalam perbatasan. Bukan sebagai tentara bayaran, tapi sebagai warga. Roma menjawab dengan janji, lalu mengingkarinya. Tiga kali.
Roma sudah tiga hari tidak tidur. Bukan karena pesta. Karena lapar. Di balik tembok Aurelian yang tebalnya dua belas kaki, roti dijual seharga mutiara. Di luar, di bukit-bukit Pincius, asap dari ribuan api unggun Visigoth naik seperti doa yang terbalik.
Malam 24 Agustus 410, Gerbang Salaria dibuka dari dalam. Bukan didobrak — dibuka. Kronik memberi dua kesaksian yang saling melengkapi. Pertama, budak-budak Goth yang bekerja sebagai pelayan di rumah-rumah bangsawan Roma, yang selama bertahun-tahun disiksa tuannya sendiri, membuka palangnya dari dalam. Roma dijatuhkan oleh orang-orangnya sendiri.
Kesaksian kedua, yang hidup dalam tradisi lisan Goth, menyebut siasat yang lebih licik. Menjelang senja, beberapa gerobak kayu didorong mendekati gerbang, dikawal orang-orang yang berpakaian compang-camping, wajahnya ditutup kain. Mereka mengaku penderita kusta dan pengungsi sakit yang memohon perlindungan gereja. Penjaga Roma, tergerak belas kasihan sekaligus takut wabah menyebar di luar tembok, membuka gerbang kecil untuk memeriksa. Di dalam gerobak bukan orang sakit, melainkan prajurit Goth yang bersembunyi di bawah jerami dan kain goni. Begitu palang terangkat, pasukan utama yang menunggu di kegelapan bukit menyerbu.
Dua versi itu tidak bertentangan — keduanya adalah siasat orang dalam. Satu menggunakan luka lama para budak, satu menggunakan belas kasihan kota. Intinya sama: Roma tidak ditaklukkan dari luar, ia membuka dirinya sendiri.
Penjarahan berlangsung tiga hari. Tiga hari yang mengubah kosmos. Alaric memberi perintah yang tidak pernah dicatat kronik yang haus darah: jangan bakar basilika, jangan sentuh perawan Vestal, jangan jarah mereka yang berlindung di gereja Petrus dan Paulus. Prajuritnya, yang sudah dua tahun berjalan dari Dacia ke Italia tanpa panen, patuh.
Ketika asap naik dari Forum, seorang teolog di Hippo bernama Agustinus mulai menulis buku yang akan mengubah Barat: De Civitate Dei. Tentang Kota Tuhan versus Kota Manusia. Karena Kota Manusia ternyata bisa jatuh.
Alaric mati beberapa bulan setelah itu, di Cosenza, usia 40. Digosipkan dikubur di dasar Sungai Busento yang dialihkan alirannya, lalu airnya dikembalikan — supaya tidak ada yang menemukan makamnya. Roma masih ada, tapi mitos keabadiannya mati malam itu.
II. Attila
Jika Alaric adalah seorang Romawi yang kecewa, Attila adalah sesuatu yang sama sekali tidak bisa dicerna Roma. Ia tidak datang untuk menegosiasi tanah. Ia datang untuk menagih pajak atas seluruh dunia. Orang Romawi menyebutnya Hun, barbar, monster. Orang Hun sendiri hanya memanggilnya Attila — Ayah.
Kekaisarannya bukan kekaisaran batu. Ia tidak punya ibukota. Istrinya tinggal di tenda-tenda felt yang ditarik kereta. Kekayaannya adalah kecepatan. Dalam tiga minggu pasukannya bisa menempuh jarak dari Budapest hari ini sampai ke Orleans. Tidak ada kurir Romawi yang bisa mengejar berita tentang kedatangannya. Kota-kota menyerah sebelum melihatnya.
Attila tidak naik sendiri. Dari 434 hingga 445, ia memerintah bersama kakaknya, Bleda. Mereka berdua putra Mundzuk, keponakan Raja Rugila. Dua bersaudara, dua penguasa, satu bangsa. Bleda memimpin sayap barat, Attila sayap timur. Bersama-sama mereka memeras Kekaisaran Timur hingga membayar upeti 350 pon emas per tahun, lalu 700 pon. Itu APBN bocor versi abad ke-5.
Tapi mereka berbeda watak. Bleda suka pesta, lebih suka menahan diri, lebih mudah diajak berunding oleh Romawi. Attila haus ekspansi total. Perbedaan itu menjadi retakan. Tahun 445, dalam perburuan di dataran Pannonia, Bleda mati. Kronik resmi Hun menulis kecelakaan berburu. Priscus, duta Romawi yang pernah makan malam di tenda Attila, menulis dengan hati-hati: Bleda dibunuh oleh orangnya sendiri. Tradisi lisan Hun dan catatan Bizantium belakangan lebih terus terang: Attila membunuh Bleda, saudaranya yang berangkat bersama sejak awal, hanya karena selisih pendapat — tentang apakah harus menghancurkan Konstantinopel habis-habisan atau terus memerasnya. Selisih pendapat itu cukup untuk menumpahkan darah sendiri. Sejak malam itu, tidak ada lagi co-king. Hanya ada satu Attila.
Julukannya Flagellum Dei — Cambuk Tuhan. Bukan dia yang memberi, tapi orang Kristen yang ketakutan. Teologinya sederhana: Tuhan terlalu suci untuk menghukum langsung, jadi Dia mengirim Hun. Priscus menulis: Attila makan dari piring kayu, minum dari cangkir kayu, sementara tamu-tamunya diberi piring perak. Dia tidak butuh kemewahan. Kemewahan butuh dia.
Taktik Hun adalah teror psikologis. Mereka tidak mengepung kota berbulan-bulan. Mereka datang cepat, membakar ladang, membunuh ternak, lalu mengirim surat: bayar atau kami kembali. Dan mereka selalu kembali.
Tahun 452, setelah menghancurkan Balkan hingga rata, ia menyeberangi Alpen Julian di musim dingin — sesuatu yang bahkan Hannibal pun tidak berani lakukan tanpa gajah. Aquileia, kota terbesar di Italia utara, dikepung selama tiga bulan. Ketika pasukannya mulai kelaparan dan ingin pulang, Attila melihat burung-burung bangau membawa anak-anaknya keluar dari kota. Ia berkata, 'Burung pun tahu kota ini akan jatuh.' Esoknya Aquileia runtuh. Orang-orangnya lari ke rawa-rawa dan mendirikan Venesia. Ya — Venesia lahir karena Attila.
Ia berhenti di Sungai Mincio. Bukan karena pasukan. Karena Paus Leo I berjalan menemuinya tanpa senjata. Tidak ada yang tahu apa yang mereka bicarakan. Legenda bilang Petrus dan Paulus muncul dengan pedang menyala di belakang Paus. Kenyataannya lebih sederhana: wabah melanda pasukan Hun, logistiknya hancur. Ia pulang. Setahun kemudian ia mati di malam pernikahannya dengan Ildico. Hidungnya berdarah. Mimisan hebat, tersedak darahnya sendiri. Seorang penguasa yang membuat dua kekaisaran membayar upeti, mati karena mimisan. Tentara Hun memotong rambut, melukai wajah mereka dengan pisau — tradisi berkabung steppa — dan menguburnya dalam tiga peti: emas, perak, besi. Lalu membunuh semua penguburnya.
III. Thariq bin Ziyad
Namanya diabadikan menjadi batu. Gibraltar — Jabal Thariq, Gunung Thariq. Tapi Thariq ibn Ziyad bukanlah seorang Arab berdarah murni. Ia seorang Berber, bekas budak, Mawla dari Musa ibn Nusayr. Rambutnya keriting, kulitnya gelap, aksennya membuat orang Quraish mengernyit. Dan ia ditugaskan memimpin 7.000 orang menyeberangi selat yang oleh orang Romawi disebut ujung dunia, tempat pilar-pilar Herkules berkata 'Non Plus Ultra' — tidak ada lagi setelah ini.
Ia menyeberang pada malam 29 April 711, mendarat di batu kapur besar yang kemudian menyandang namanya. Kapal-kapal yang mengantarnya bukan miliknya — itu milik Julian, Gubernur Kristen Ceuta, sekutu Musa. Setelah pendaratan, kapal-kapal itu kembali ke Afrika untuk membawa bala bantuan dan menjaga jalur logistik. Ia tidak membakarnya. Sejarawan awal seperti Ibnu Abd al-Hakam dan Al-Tabari tidak pernah menyebut pembakaran kapal. Secara logika militer, membakar satu-satunya jalan pulang dan membakar properti sekutu di hari pertama invasi adalah bunuh diri. Bagaimana ia mengirim surat minta bantuan ke Ifriqiya jika kapalnya dibakar?
Yang ia lakukan lebih efektif daripada teater api. Ia menempatkan pasukannya dengan gunung di belakang dan sungai di samping — posisi yang memaksa bertarung dengan disiplin. Di depannya, kerajaan Visigoth di bawah Roderick — raja yang baru merebut tahta lewat kudeta, dibenci bangsawannya sendiri. Roderick mengumpulkan mungkin 30.000 orang, tapi pasukannya terbelah: bangsawan Visigoth yang dikhianati malah mengirim surat kepada Thariq. Lagi-lagi, gerbang dibuka dari dalam.
Pertempuran Wadi Lakka, 19 Juli 711. Thariq menang karena disiplin Berber yang terbiasa perang di Atlas, bukan karena motivasi teatrikal. Dalam 3 tahun, hampir seluruh Semenanjung Iberia jatuh. Bukan karena pedang saja, tapi karena petani Yahudi dan Kristen Arian yang ditindas Gereja Visigoth membuka pintu kota. Mereka dikenakan pajak lebih ringan oleh Muslim daripada oleh raja mereka sendiri.
Ketika London masih berupa rawa lumpur, Cordoba sudah memiliki perpustakaan dengan 400.000 buku dan jalan yang diterangi lampu. Thariq tidak pernah meminta istana. Setelah menaklukkan hampir seluruh semenanjung dalam dua tahun, ia dipanggil ke Damaskus oleh Khalifah Al-Walid. Ia datang membawa harta yang tak terhitung, lalu menghilang dari sejarah. Beberapa mengatakan ia mati miskin sebagai pengemis di jalanan Damaskus. Sang penakluk gunung, berakhir tanpa gunung untuk dipijak. Tapi batu itu masih ada. Setiap kali kau melihat peta dunia, selat sempit antara Afrika dan Eropa masih membawa namanya.
IV. Salahuddin
Yusuf ibn Ayyub bukan Arab. Dia Kurdi dari Tikrit, kota kecil di tepi Tigris. Orang gunung. Ketika dia lahir 1137, tidak ada yang menyangka anak itu akan jadi satu-satunya orang yang dihormati oleh kedua sisi Perang Salib.
4 Juli 1187, Hattin. Pasukan Frank — Kerajaan Yerusalem — kehausan di bukit tandus. Salahuddin tidak menyerang langsung. Dia membakar semak kering. Asap. Panas. Frank pecah formasi untuk mencari air di Danau Tiberias, dan saat itulah kavaleri Kurdi memotong mereka. Raja Guy ditangkap hidup-hidup. Salahuddin memberi dia air es sendiri, karena adab: kau tidak membunuh tamu yang kehausan, bahkan jika dia musuh. Tapi dia tidak memberi ampun kepada Raynald de Châtillon — perampok yang menyerang kafilah haji. Itu bukan kekejaman acak, itu pesan: ada aturan perang, dan kau melanggarnya.
Oktober 1187, Yerusalem menyerah. Ketika Tentara Salib pertama merebut Yerusalem 1099, mereka membantai 70.000 orang — darah sampai mata kaki kuda di Masjid Al-Aqsa, tulis kronik mereka sendiri dengan bangga. Ketika Salahuddin merebutnya kembali 88 tahun kemudian, dia melarang penjarahan. Dia berunding dengan Patriark. Tebusan ditetapkan, yang miskin dibebaskan gratis. Dia bahkan menjual perhiasannya sendiri untuk menebus tawanan. Saudaranya, Al-Adil, membebaskan 1.000 tawanan dengan uangnya sendiri.
Ketika ia memasuki kota, ia tidak menunggang kuda. Para prajuritnya tidak menjarah. Salib emas di atas Dome of the Rock diturunkan dengan hati-hati, bukan dihancurkan. Ia memanggil orang Yahudi yang diusir oleh Tentara Salib untuk kembali. Ia mencuci lantai Al-Aqsa dengan air mawar. Richard Singa Hati, musuhnya yang paling terhormat, ketika sakit di Arsuf, Salahuddin mengirimkan es dan dokter pribadinya.
V. Subutai
“Aku gemuk dan tua, tapi ketika tuanku memerintahkan, aku akan merangkak ke medan perang.” — Subutai kepada Ogedei Khan
Jika sejarah militer punya dewa, namanya Subutai. Bukan Jenghis. Jenghis adalah visinya. Subutai adalah tangannya. Bayangkan: seorang pria setinggi 160 cm, berat 120 kg, lumpuh karena asam urat sehingga harus diangkat dengan kereta, memimpin 150.000 penunggang kuda menaklukkan lebih banyak wilayah daripada Alexander, Caesar, dan Napoleon digabungkan. 20 medan, 65 pertempuran besar. Tidak pernah kalah.
Tahun 1241 adalah mahakaryanya. Eropa tidak tahu apa yang menantinya. Paus bertengkar dengan Kaisar. Raja-raja sibuk perang saudara. Lalu datanglah berita: bangsa Tartar memakan bayi. Mereka tidak terkalahkan.
9 April, Legnica. Henry II yang Saleh mengumpulkan 30.000 ksatria terbaik Eropa — Templar, Hospitaller, Teutonik. Semua mati dalam satu sore oleh taktik pura-pura mundur dan layar asap jerami basah dicampur belerang. Kuda-kuda besar Teutonik yang berbaju besi 30kg amblas di rawa musim semi. Henry kepalanya dipenggal, diarak dengan tombak.
Dua hari kemudian, 11 April, 500km di selatan — Mohi. Raja Bela IV dari Hungaria membawa 80.000 orang, benteng kereta — wagon fort — di tepi Sungai Sajó. Subutai menyerang menyeberangi sungai di malam hari dengan jembatan ponton. Pagi-pagi Hungaria bangun sudah dikepung. Lagi-lagi asap. Lagi-lagi Tulughma. Tapi Subutai sengaja membuka satu celah di kepungan — jalan kabur. Pasukan Hungaria yang panik lari lewat celah itu, formasi pecah, lalu dibantai di sepanjang jalan selama 2 hari. Karena tentara yang lari lebih mudah dibunuh daripada tentara yang bertahan.
Dalam 3 hari, Polandia dan Hungaria — dua kerajaan terbesar di Eropa Tengah — lenyap. Jalan ke Wina terbuka. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Lalu, di tepi Danube, berita datang: Ogedei Khan mati di Karakorum. Semua pangeran harus pulang untuk kurultai. Eropa selamat karena seorang Khan mati karena kebanyakan minum.
Subutai mati 1248, umur 73, masih gemuk, masih merencanakan invasi ke Eropa Barat. Monster yang mencintai perang — karena hanya perang yang memberi tempat bagi orang hutan sepertinya untuk menjadi dewa.
VI. Qutuz & Baibars
Pada 1258, dunia Islam selesai. Bukan metafora — selesai secara harfiah. Hulagu Khan, cucu Jenghis, menjarah Baghdad. Khalifah Al-Musta'sim dibungkus karpet dan diinjak kuda sampai mati — Mongol pantang menumpahkan darah bangsawan ke tanah. Perpustakaan Bayt al-Hikmah dilempar ke Tigris sampai airnya hitam karena tinta selama berhari-hari. 800.000 orang dibantai dalam seminggu. Adzan tidak terdengar di Irak selama berbulan-bulan.
Dan di Kairo, ada dua budak yang saling benci. Qutuz — nama aslinya Mahmud. Pangeran Khwarazmia, keponakan Jalal ad-Din Khwarazmshah. Baibars — Kipchak dari steppa utara Laut Hitam, mata biru keabu-abuan, ada katarak putih di satu matanya. Tinggi besar, suara keras. Mereka tidur bersebelahan di Barak Bahri di Pulau Roda, di tengah Nil, tahun 1250. Dua remaja budak yang berbagi mangkuk.
1260. Surat dari Hulagu datang: Dari Raja di Raja Timur dan Barat, Khan Agung. Ketahuilah bahwa kami adalah tentara Tuhan di bumi-Nya, diciptakan dari murka-Nya. Balasan Qutuz? Dia tidak membalas surat. Dia memanggil utusan Mongol itu ke Kairo, dan di Bab Zuwayla — gerbang utama Kairo — dia penggal mereka. Kepala mereka digantung di gerbang. Tidak ada negosiasi dengan kiamat.
Qutuz tahu dia tidak bisa bertahan di Kairo. Dia mengumpulkan semua yang ada: Mamluk Bahri, Burji, sisa Khwarazm, bahkan penjahat. Total 20.000. Di depan, Hulagu sudah kembali ke Mongolia karena Mongke Khan mati, tapi meninggalkan jenderalnya: Kitbuqa — Kristen Nestorian, Mongol tulen, yang bersumpah tidak akan mundur. 12.000 Mongol yang tidak pernah kalah.
Mereka bertemu di Ain Jalut — Mata Air Goliath — di Palestina, 3 September 1260. Tempat Daud mengalahkan Jalut. Taktiknya adalah taktik Mongol itu sendiri. Baibars memimpin vanguard, maju, menyerang, lalu pura-pura kabur — feigned retreat ala Mongol. Kitbuqa mengejar. Dan saat Kitbuqa mengejar Baibars masuk ke lembah, Qutuz turun dari bukit dengan pasukan tersembunyi. Dari dua sisi. Untuk pertama kalinya, Mongol terkepung dengan taktik mereka sendiri.
Di tengah pertempuran, sayap kiri Mamluk goyah. Qutuz melempar helmnya ke tanah dan berteriak: Wa Islamah! Duhai Islam! Dia sendiri maju ke garis depan, bertarung dengan pedang. Sultan berkelahi seperti prajurit. Itu membalikkan keadaan. Kitbuqa mati di sana. Untuk pertama kalinya sejak Jenghis menyatukan Mongol, mereka kalah dalam pertempuran lapangan terbuka. Mitos invincibility pecah. Di lembah kecil di Palestina.
Dan di Kairo, ketika kabar kemenangan sampai, orang-orang menangis di jalan. Adzan dikumandangkan tujuh kali.
Et Vivo
Dan Mereka Masih Hidup — di dalam kita.
Setelah Ain Jalut, Qutuz pulang sebagai pahlawan. Tapi di daerah Salihiyah, dia berburu kelinci. Memisahkan diri dari pengawalnya. Dan di sanalah Baibars — teman masa baraknya — menikamnya. Sejarah tidak pernah sepakat. Yang jelas, Qutuz mati di perjalanan pulang dari kemenangan terbesarnya.
Baibars menjadi Sultan. Al-Malik al-Zahir. Dan dia melakukan apa yang tidak bisa dilakukan Qutuz: dia memburu sisa-sisa Tentara Salib sampai habis. 1265 — Caesarea jatuh. 1268 — Antiokhia, kota yang dipegang Frank selama 170 tahun, dibakar sampai rata. Dia yang menutup buku Perang Salib, bukan Salahuddin.
Et Vivo — mereka masih hidup. Di peta. Di namamu. Di huruf yang kau pakai untuk membaca kalimat ini.
Sejarah bukan tentang siapa yang paling mulia. Sejarah tentang siapa yang paling terakhir bertahan untuk bercerita.
Jakarta — 2026 • Final Publish Edition
Wednesday, October 20, 2021
Sejarah
Bismillahirrahmanirrahim…
Sejarah
Sejarah adalah cerita tentang
masa lalu, bisa jadi tentang kebaikan atau keburukan, kemegahan atau
keterpurukan, kekuasaan atau kehinaan, kalah atau menang, dan lain-lain.
Sejarah adalah suatu keadaan yang
terhijab atau tertutup oleh masa, lalu hijab itu diangkat agar kita dapat
mengambil iktibar atau pelajaran dari keadaan dimasa tersebut, begitulah kemudian
Alquran menyibak dan menghidangkan sejarah, agar kita dapat bertafakur dan
mengambil pelajaran serta manfaat yang terkandung didalamnya.
Sejarah juga tersibak oleh tutur
lisan yang bersambung, prasasti, naskah, manuskrip, dan benda bertulis atau
bergambar lainnya.
Sejarah dalam Alquran kemudian
dibedah oleh ahlinya, Bahasa Alquran ternyata tidak cukup difahami oleh ahli Bahasa
saja (nahwu, sorof, balaghah, bayan dan lainnya), tapi juga dikaji oleh para
fukaha, ulama dan ahli Zauq dan kemudian dihidangkan kepada kita semua.
Lalu sejarah Non Alquran seperti
diatas, akan dikuliti oleh para ahli baca/filolog dan ahli Bahasa/linguis, lalu
diteropong oleh arkeolog, didramatisir oleh anthropolog, lalu diperdebatkan
oleh banyak pihak, baik debat sehat maupun debat sok tahu.
Tutur lisan dan Ahli Hikmah/Zauq
tidak memiliki kursi dalam Kajian sejarah modern, padahal dalam Islam mereka
adalah pemegang sanad dan pemegang rahasia. Sejarah modern menyandarkan kajian
dengan apa yang mereka sebut bukti primer, sekunder dan tersier atau apa yang
mereka sebut sebagai Fakta Lapangan. Seluruh kajian pada akhirnya dialamatkan
kepada siapa yang paling hebat, siapa yang paling berkuasa atau siapa yang
paling sakti mandraguna. Lalu mereka dengan senang hati berdebat dan lupa
tentang pelajaran apa yang bisa diambil darisana..
Allahu’alam bissawab
------- ilalang -------
Wednesday, December 2, 2020
Pulau Kemaro (Kembaro) - Bahasa Palembang
Bismillahirrahmanirrahim...
Setetak cerito dari Pulau Kemaro
Ujung Desember tadi, kami sekeluargo sanjo ke Pulau
Kemaro. Kulo yg lahir besak di Plembang, baru inila tejejak kaki disano,
padahal dari kecik la nenger namo pulau kemaro, mungkin karno baru inila pulau
kecik ini diurusi, dibuatke dermaga dan perahu siap sedio kulu kilir dari bawah
Ampera.
Nyampe
disano, disambut gerbang abang, jalan dikit sampe di kelenteng, disebelahnyo
ado Batu dengan tulisan Mitos Pulau Kemaro, yang becerito soal Tan Bun An dan
Siti Fatimah yg bejodoh terus tewas karno nyelem nak ngambek guci berisi emas
yg terlanjur dibuang, dio beduo nyelem dan idak nimbul lagi.
Terus kami
befoto di kelenteng, singgonyo kiri kanan depan belakang. Terus ke belakang
befoto lagi di pagoda yg ngetop itu.
Sambil
istirahat abis foto-foto, mato tetuju ke belakang pagoda, keujung pulau sikok
lagi. Sambil santai cuci mato kulo becerito ke anak bujang kulo;
“Nak, dulu jaman bingen diujung pulau sebela
sano ado benteng Kerajaan Palembang, bukan benteng dalam artian bangunan, karno
pulau ini sebenernyo benteng. Diujung situ dulu bejejer Meriam dan pasukan
Kerajaan Palembang yang siap betempur ngelawan siapo bae yang nak nyerbu
Palembang. Di belakang kito ado pabrik PUSRI, disitu dulu ado Keraton Kuto
Gawang. Taon 1605 waktu Perang Banten-Palembang pulau inila yang harus ditembus
sebelum musuh sampe ke Keraton. Taon 1659 waktu Belando nyerang, pulau ini jugo
yg musti ditembus dulu, baru belando pacak sampe ke Keraton Kuto Gawang, waktu
itu keraton hancur dibakar belando, Rajo Side Ing Rajek tepakso, mundur ke sako
tigo dan wafat disano. Waktu Perang Menteng, perang terakhir dengen belando
taon 1821, duo kali belando nyubo tapi dak pacak nembus pulau ini ditambah 2
benteng dikiri kanan Mangun Jayo samo Tambak Jayo. Yang ketigo baru tembus
karno blando berkhianat samo perjanjian yg dibuat dan tembus sampe Keraton Kuto
Besak”.
Anak bujang
manggut-manggut entah ngerti entah idak.
Waktu di
perahu nak balek kulo becerito lagi;
“Nak, kau
la maco cerito dibatu tadi, itu mitos atau legenda, sebenernyo ado legenda
sikok lagi selain itu, mak ini ceritonyo; Dulu ado bajak laut terkenal yg
markasnyo di pulau ini, namonyo Tan Gu Ci. Dio nguasoi sungi Musi, selat Bangka
sampe selat Malaka. Perantau Cino yang ado di Plembang maluan, laju ngirim kabar
ke Kaisar Cino kalu ado wong cino jadi perompak disini. Dikirimla Laksamana
Cheng Ho untuk nangkep Tan Gu Ci karno la mikin malu Cino. Kapal Cheng Ho
merapat di Pulau Bangka dan bikin cerito kalu mereka adalah rombongan bajak
laut dari Cino. Dapet Kabar itu Tan Gu Ci ngirim undangan yang diterimo oleh
Cheng Ho. Belayarla Cheng Ho pake perahu kecik, merapat di pulau kemaro turun
dewe’an kareno undangan cuman buat dio bae, anak buahnyo yang diperahu neruske
belayar, minggir di 7 ulu dan muat markas di Jaka Baring. Waktu Cheng Ho betemu
Tan Gu Ci, ditawa’i arak dak galak, ditawa’i betino dak galak (karno muslim),
Tan Gu Ci laju curiga, akhirnyo tebongkar kalu Cheng Ho utusan Kaisar yang nak
nangkep dio. Terjadi duel antara Tan Gu ci dengen Cheng Ho yang ujungnyo
tewasnyo Tan Gu Ci. Kepalaknyo dibawa Cheng Ho untuk diserahkan ke Kaisar Cino,
badannyo dikubur di kuburan cino seberang Nago Swidak”.
Anak bujang
manggut-manggut lagi sambil mikir, jangan-jangan ubaknyo ni lagi kesurupan.
Itu bae
setetak cerito dari pulau kemaro yang dulu disebut Pulau Kembaro (Kembare/bhs
Besemah. Kembara/bhs Indonesia).
Jual Beli dalam Adat Minang
Bismillahirrahmanirrahim...
Jual Beli
dalam Adat Minang
Topik ini
mungkin tidak menarik dan tidak ada yang membahas. Apalagi dizaman sekarang
yang bertaburan kecanggihan tehnologi tentu masalah ini tidak kekinian. Adat
mungkin dianggap cerita usang masa lalu yang tak perlu dipelajari apalagi
dijalani. Untunglah dalam masyarakat Minang sendi-sendi adat ini masih banyak
yang dipakai, terutama dengan adanya Lembaga Kerapatan Adat seperti LKAAM dan
KAN yang menjadi poros agar adat tetap kokoh pada posisinya, tidak tergerus
oleh zaman.
Adat
basandi syarak dan syarak basandi Kitabullah, atau syarak mangato adat mamakai.
Demikian fondasi hukum adat Minangkabau diletakkan oleh leluhur, Ninik Mamak,
para Panghulu dan Cadiek Pandai pada masa dahulu. Berdasarkan azaz ini maka
hukum Muamalah dalam syariat Islam secara penuh diratifikasi oleh Adat Minang.
Karena
Kitabullah berlaku sampai akhir zaman, sesungguhnya adat ini tidak akan pernah
usang, karena Allah Ta’ala sendiri yang menjamin. Fiqh Muamalah boleh saja
disandarkan kepada mazhab tertentu, karena setiap mazhab mempunyai landasan dan
dalil yang semua kembali kepada Kitabullah. Namun demikian, terlepas dari
aturan baku dalam Fiqh Muamalah/Hukum Syarak, para pendahulu atau nenek Moyang
orang Minang membuat aturan tambahan sebagai pelengkap dari aturan umum yang
ada dan disesuaikan dengan kondisi alam, batin dan keunikan masyarakat Minang.
Dasar Utama
: “Lahu (Lillahi) ma fissamawati wama fil ardh”, kepunyaan Allah apa yang ada
dilangit dan dibumi (Ayat Kursi – Al Baqarah)
Konsep
dasar ini menunjukkan bahwa diri kita sendiri bukan milik kita, tapi milik
Allah Ta’ala, darisinilah kemudian para masyaikh mengajarkan bahwa sebelum
melakukan sesuatu hendaknya membaca “basmalah”. Apakah juga dalam jual beli,
jawabnya “Iya”. Nenek Moyang orang Minang menambahkan aturan yang merupakan
ekpresi dari Rasa Malu/Haya atas objek yang akan dijualbelikan yang
keberadaannya merupakan kreasi/ciptaan Allah dan tanpa campur tangan manusia.
Ada 2 macam
objek yang diatur dalam adat Minang mengenai hal diatas, yaitu tanah dan
binatang. Kedua objek tersebut keberadaannya mutlak karena Allah, adat mengatur
bahwa :
1. Tanah, tidak disebut jual beli,
melainkan disebut “Isi Adat” yang ditandai dengan “samaso gagak hitam” bila
perpindahan tanah dimaksud untuk selamanya. Hasil dari tanah seperti beras,
buah, sayur dan lain-lain tidak termasuk, aturan ini berlaku untuk tanah saja.
2. Binatang berkuku/ternak, akadnya disembunyikan.
Biasanya dengan menutup tangan yang ber akad dengan kain sarung, tawar menawar
terjadi dalam sarung dengan memegang jari tangan sesuai dengan harga yang
dikehendaki.
Demikianlah,
begitu luhur Nenek Moyang mengajarkan kita untuk memakai Rasa Malu/Haya dalam
memperjualbelikan milik Allah Ta’ala.
Mohon maaf,
tolong bakarek kok talabieh, bauleh kok takurang, lupoan kok raso manyamak.
Semoga
bermanfaat, Wallahul Musta’an wa Allahu Yahdikum
Wassalam
-------
ilalang -------
Alue jo Patuik - Alur dan Patut
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum wr wb
Alue jo patuik
Sebagai rang Minang nan layie dan gadang di rantau, tantu pangatahuan nan manyangkuik adaek kurang bana. Mamak antah bilo katibo, Panghulu antah dima, untuang lai ado ranggaek nan saketek banyak maisi utak nan auih di pangatahuan soal adaek minang.
Dikana-kana dek umue la gaek pulo, ado nan badanguang dikapalo satantang urusan adaek nan banamo alue jo patuik dalam lingkaran Malewa Gala/Suksesi, selain raso jo pareso. Kini ka ambo cubo maangkek carito saisuek soal nantu, tantu jo pangatahuan nan sangenek pulo, dek itu kironyo kok salah tolong dimaafkan, kok takurang tolong diuleh, kok talabieh tolong bakarek sae.
Alue atau rang kini manyabuik alur, dapek pulo dibaco aliran, nan mukasuik kok indak salah adolah tibonyo sasuatu sasuai jo nan saharusnyo. Nan paliang lamak bacarito soal alue ko adolah soal “Gala” atau gelar. Turun temurun gala harus sasuai jo alue nan lah dipakai sajak saisuek, dibuktikan jo silsilah atau ranji bak kecek awak. Kok indak bisa dibuktian alue nantu, tantu indak bisa tajadi “suksesi atau Malewa Gala”, tarutamo dalam kaum adaek rang Piliang yang “manitiek dari langik/aristokrasi” – “gala turun dari Mamak ka kamanakan anak laki-laki partamo dari dunsanak padusi nan paliang tuo. Dek itu Malewa Gala di rang Piliang indak bisa dek wasiat atau mufakaek, kecuali alue putuih, mako babuek banda baru. Agak balain di kaum Chaniago, dimano alue batumpu di Mamak setelah bamufakaek jo niniek mamak nan lain, biasonyo Mamak alah mambimbiang kamanakan nan dipersiapkan untuk manarimo gala, sasuai jo “mambasuik dari bumi/demokrasi” sebagai pegangan rang Chaniago.
Patuik atau kepantasan, adaek mamakai patuik sabagai ukuran umum dalam manilai perilaku anggota masyarakaek adaek. Kepantasan dalam manarimo gala diukue dari kepribadian urang saurang sasuai jo gala nan ditarimo. Sebagai contoh ; Indaklah patuik urang bagala “Imam” kok dalam kesaharian idiuknyo indak pernah pai ka musajik atau bahkan sehari-hari karajonyo ba ampok/judi di lapau secaro terang terangan dimuko masyarakaek.
Dari carito diateh Nampak baso Alue balaku sebagai aturan khusus atau Lex Specialis samantaro Patuik adolah aturan umum atau Lex Generalis. Kok nyampang tajadi penyimpangan satantang dua urusan nantu, harus disalasaian di Panghulu Suku yang bersangkutan, kok indak juo salasai kabakeh Kerapatan Adat Nagari (KAN) diputuihan nan kaputusannyo tajam co bilah bambu, kareh co kuku rimau tapi lunak co ambun pagi.
Singgan tu sae carito siang ko, mohon maaf kok nyampang ado kato nan dak sasuai atau pandapek nan indak bakatantuan. Ambo dek layie dirantau gadang dirantau, iyo kurang bana pangatahuan soal iko.
Wallahul Musta’an wa Allahu Yahdikum
Wassalam
------- ilalang
-------
Terjemahan
Alur dan Patut
Sebagai orang MInang yang lahir dan besar di rantau, tentu pengetahuan menyangkut adat sangat kurang. Mamak entah kapan akan datang, penghulu entah dimana, untunglah ada orangtua yang sedikit banyak mengisi otak yang haus akan pengetahuan soal adat Minang.
Di pikir-pikir, karena umur sudah bertambah tua, ada yang berdengung di kepala mengenai adat Minang yang bernama “Alur dan Patut” dalam lingkaran pengalihan gelar (malewa)/suksesi, selain “raso dan pareso”. Akan coba saya angkat cerita masa lalu tentang hal itu, tentunya dengan pengetahuan yang sedikit pula, karena itu bila salah tolong dimaafkan, kalau kurang tolong diulaskan, kalau berlebih tolong dipotong saja.
Alur, dapat juga dibaca aliran, yang maksudnya adalah sampainya sesuatu sesuai dengan yang seharusnya. Yang paling enak cerita soal ini adalah dalam masalah “gelar”. Turun temurun gelar harus sesuai dengan alur yang sudah dipakai sejak jaman dahulu, dibuktikan dengan silsilah/ranji. Kalau tidak bisa membuktikan silsilah tersebut, tentulah tidak bisa terjadi pengalihan gelar/malewa tadi. Terutamanya dalam adat kaum Piliang yang “menitik dari langit/aristokrasi”, dimana “gelar turun kepada anak laki-laki pertama dari saudara perempuan yang tertua”. Karena itu pengalihan gelar dalam kaum piliang tidak bisa memakai wasiat atau mufakat, kecuali bilamana alur tersebut “putus”, maka dibuatlah saluran baru. Berbeda dengan adat kaum Chaniago, dimana alur bertumpu kepada Mamak setelah bermufakat dengan Ninik Mamak yang lain, biasanya Mamak telah membimbing/kaderisasi kemenakan yang dipersiapkan untuk menerima gelar, sesuai dengan “membesut dari bumi/demokrasi” yang menjadi pegangan kaum Chaniago.
Patut atau Kepantasan, adat memakai kepantasan sebagai ukuran umum dalam menilai perilaku masyarakat adat. Kepantasan dalam menerima gelar diukur dari kepribadian orang perorang sesuai dengan gelar yang diterima. Sebagai contoh : tidaklah patut seorang yang bergelar “Imam” dalam keseharian hidupnya tidak pernah ke masjid atau bahkan sehari-hari kerjanya berjudi di warung secara terang-terangan dimuka masyarakat.
Dari cerita diatas terlihat bahwa Alur berlaku sebagai “Lex Specialis/aturan khusus” sementara Patut adalah “Lex Generalis/aturan umum”. Bilamana terjadi penyimpangan terhadap urusan diatas, maka dapat diselesaikan dihadapan Penghulu Suku, kalau tidak juga selesai, maka pada Kerapatan Adat Nagari (KAN) diputuskan, yang Keputusannya tajam bagai bilah bambu, keras bagai kuku harimau tapi lembut bagai embun pagi.
Demikian dongeng hari ini, mohon maaf bila ada kata yang tidak sesuai atau pendapat yang tidak jelas, karena saya yang lahir dan besar di rantau pasti sangat kurang pengetahuan tentang ini.
Wallahul Musta’an wa Allahu Yahdikum
Wassalam
------- ilalang
-------
Wednesday, June 24, 2020
PUSAKO TINGGI - ADAT MINANGKABAU
Pusako Tinggi di
Minangkabau, sebuah tinjauan praktis
Dalam Adat Minangkabau, harta yang diwariskan
terbagi menjadi 3 bagian :
- Pusako
Tinggi, harta yang diwariskan berdasarkan garis perempuan
(matrialchaat/matrilineal)
- Pusako
Randah, disebut juga Harato Suarang, adalah harta hasil pencaharian kedua orang
tua yang diwariskan berdasarkan Hukum Waris Islam (faraidh)
- Sako
jo Pusako, harta yang berkaita dengan Gelar Adat, diwariskan dari Mamak ke
Kemenakan
Kita akan membahas tentang Pusako Tinggi saja,
nomor 2 dan 3 insya Allah akan kita bahas dilain waktu.
Latar Belakang
Pusako Tinggi adalah salah satu keunikan Adat Minangkabau,
sudah sejak dahulu menjadi sumber masalah, mulai dari perkara tingkat kampung
sampai perkara tingkat Mahkamah Agung. Mengapa demikian? Keunikannya membuat
banyak yang tidak memahami hakikat dari Pusako Tinggi tersebut, bahwa nenek
moyangnya sudah menyiapkan bagi keturunannya harta, agar tidak ada yang
kelaparan. Pusako Tinggi juga merupakan sebuah Mahakarya nenek moyang
Minangkabau dalam perspektif menjaga generasi selanjutnya dalam menghadapi
dunia yang tidak dikenal dimasa depan.
Walau begitu tidak sedikit pula yang menentang,
bahkan Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi putra Minang yang menjadi Imam Besar
dan Khatib Masjidil Haram mempermasalahkan hal ini. Beliau menyanggah bahwa
system waris Pusako Tinggi bertentangan dengan hukum waris Islam (faraidh),
dimana waris anak laki dan perempuan adalah 2 : 1. Sementara adat Minangkabau
berlandaskan “adat basandi syarak dan syarak basandi Kitabullah”.
Dasar Hukum Pusako
Tinggi
Setelah gejolak yang tak terlihat bagaikan arus
dalam dipermukaan tenang. Akhirnya para tokoh dan ulama mulai melakukan
legitimasi agar tidak terjadi kekacauan. Dimulai dari Syaikh Abdul Karim
Amrullah (ayah dari Buya HAMKA) yang juga murid dari Syaikh Ahmad Khatib Al
Minangkabawi mengeluarkan fatwa bahwa : “Harta Pusako beda dengan harta
pencaharian dan sama dengan harta wakaf dengan dalil qias pada harta musabalah
di masa Khalifah Umar bin Khattab yang digunakan untuk kepentingan umum”.
Pendapat yang sama disampaikan oleh Syaikh Sulaiman Arrasuli yang juga murid
Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.
Selanjutnya dalam Kongres Badan Permusyawaratan
Alim Ulama, Ninik Mamak dan Cerdik Pandai Minangkabau pada tanggal 4 – 5 Mei
1952 disepakati bahwa untuk Pusako Tinggi berlaku Hukum Adat dan untuk Harta
Pencaharian berlaku Hukum Islam (faraidh).
Seminar Hukum Adat Minangkabau yang digelar
pada 1968 mempertegas rumusan kesimpulannya menjadi dua poin.
Pertama, terhadap harta pencaharian berlaku
Hukum Faraidh, sedangkan terhadap harta pusaka berlaku Hukum Adat. Kedua,
berhubung IKAHI Sumbar ikut serta mengambil keputusan dalam seminar ini, maka
seminar menyerukan kepada seluruh hakim-hakim di Sumbar dan Riau supaya
memperhatikan ketetapan seminar ini.
Akibat Hukum pada
Pusako Tinggi
Dari keterangan diatas terlihat bahwa semua
pihak mulai dari Ninik Mamak, Alim Ulama, Cerdik Pandai bahkan para Ahli Hukum
sepakat bahwa untuk Pusako Tinggi berlaku Hukum Adat. Lalu Hukum Adat yang seperti
apakah? Bila kita kembali ke fondasi dasar Adat Minang “Adat basandi Syarak,
Syarak basandi Kitabullah” yang merupakan “Lex Superior”, maka jelas Pusako
Tinggi adalah “Harta Wakaf”
Berdasarkan hal tersebut maka Pusako Tinggi
sebagai harta wakaf adalah harta yang akan berlindung dibawah UU Wakaf No. 41
Th 2004 yang melarang harta wakaf untuk :
a. dijadikan jaminan;
b. disita;
c. dihibahkan;
d. dijual;
e. diwariskan;
f. ditukar; atau
g. dialihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya.
Adapun ketentuan pidana yang diatur dalam UU No. 41 adalah :
Pasal 67 ayat (1) UU Wakaf sebagai berikut:
“Setiap orang yang
dengan sengaja menjaminkan, menghibahkan, menjual, mewariskan, mengalihkan
dalam bentuk pengalihan hak lainnya harta benda wakaf yang telah diwakafkan
sebagaimana dimaksud dalam Pasat 40 atau tanpa izin menukar harta benda wakaf
yang telah diwakafkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp 500 juta.”
Demikianlah sedikit analisa praktis tentang Pusako Tinggi di Alam Minangkabau, bila ada kesalahan saya mohon maaf dan kepada Allah Ta’ala saya mohon ampun dan bila ada kebenaran dalam tulisan diatas semata-mata karena kemurahan Allah Ta’ala saja.
Wallahul Musta’an wa Allahu Yahdikum
Wass
------- ilalang -------
Kumpulan buku cantik
Assalamualaikum wrwb bagi teman2 yang berminat untuk membeli ebook cantik, silahkan mampir di https://lynk.id/olipcute. saat ini tersedia ...
-
Assalamualaikum wr wb Bismillahirrahmanirrahim Baralek Gadang Pelantikan Wali Nagari HM. Tamin glr. Datuk Rajo Nan Gadang (1937) Si...
-
I am speechless, after create that diagram and hope some of you can explain it to me, thanks
-
Assalamualaikum Wr. Wb Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata'ala. Kita memuji, memohon pertolongan dan meminta ampun kepadaNya. K...