Tuesday, November 15, 2016

Ulama

Assalamualaikum wr wb...

Long time no see alias lama tak jumpa, cape juga ngikutin cerita politik yang marak akhir-akhir ini, ada ribuan versi dan terserah kita mau ambil yang mana, subhanalah...

Sebagai pengisi waktu dan alternate dari kejenuhan berita kekinian dibawah ini saya comot cerita dari Metromini News 24/09/2016 (punteun om numpang copas) yang menyajikan cerita ulama Salafus Shalihin dan saya tambahkan cerita dari Bumi Nusantara, please enjoy it......

Kisah teladan ulama salafus sholeh, AI-mam Malik (179 H) diminta Khalifah Harun Ar Rasyid untuk berkunjung ke istana dan mengajar Hadits kepadanya. Tidak hanya menolak datang, ulama yang bergelar Imam Dar Al Hijrah itu malah meminta agar Khalifah yang datang ke rumahnya untuk belajar, ”Wahai Amirul Mukminin, ilmu itu didatangi, tidak mendatangi.”

Akhirnya, mau tidak mau, Harun Ar Rasyidlah yang datang kepada Imam Malik untuk belajar. Demikianlah sikap Imam Malik ketika berhadapan dengan penguasa yang adil, semisal Ar Rasyid. Ia diperlakukan sama dengan para pencari ilmu lainnya, dari kalangan rakyat jelata. Selain itu, para ulama menilai, kedekatan dengan penguasa bisa menimbulkan banyak fitnah. Kisah ini termaktub dalam Adab As Syari’iyah (2/52).

Tidak hanya Imam Malik yang memperlakukan Ar Rasyid demikian. Para ulama lainnya pun memiliki sikap yang sama. Suatu saat, Ar Rasyid pernah meminta kepada Abu Yusuf, qadhi negara waktu itu, untuk mengundang para ulama Hadits agar mengajar Hadits di istananya.

Ada pula sebuah kisah menarik lainnya, tentang Imam Al Auza’i (157 H). Setelah memberi nasihat kepada Khalifah Al Manshur, beliau meminta izin kepada Khalifah untuk pergi meninggalkannya demi menjenguk anaknya di negeri lain. Al Manshur merasa bahwa Al Auza’i telah berjasa kepadanya, karena nasihat-nasihat yang telah disampaikan kepadanya. Akhirnya, ia ingin memberi ”bekal perjalanan” untuk ulama ini. Namun, apa yang terjadi?

Sebagaimana disebutkan dalam Al Mashabih Al Mudzi` (2/133,134), Imam Al Auza’i menolak. ”Saya tidak membutuhkan itu semua. Saya tidak sedang menjual nasihat, walau untuk seluruh dunia dan seisinya,” ucap beliau tegas.

Sungguh sebuah adab yang luar biasa.

Selanjutnya ada cerita dari Kalimantan Selatan tentang seorang Guru.

Suatu hari Sang Guru diundang oleh salah seorang muridnya untuk menghadiri acara hajatan di rumahnya. Sang Guru memenuhi undangan tersebut, memberikan nasehat dan wejangan karena diminta tuan rumah, Saat pamit pulang tuan rumah memberikan amplop yang serta merta ditolak oleh Sang Guru, kemudian tuan rumah memaksa dan mengatakan itu hanya untuk ongkos becak pulang. Akhirnya amplop tersebut diterima dan pulanglah Sang Guru dengan menaiki becak, sampai didepan rumah Sang Guru turun dari becak dan memberikan amplop tadi kepada pengemudi becak, betapa kaget pengemudi becak tersebut dan menolak amplop tersebut sambil berkata bahwa Sang Guru tidak usah bayar ongkos becaknya. Sang Guru menjawab dengan santun " Amplop ini dititipkan kepada saya untuk bapak, tidak ada hak bagi saya untuk menerimanya, ambillah ini rezeki dari Allah yang dititipkan pada tuan rumah tadi kemudian kepada saya". (konon dari cerita yang saya dapat, isi amplop itu senilai dengan 3 buah becak).

Duhai betapa indah amanah, terutama bila dipertontonkan oleh seorang Ulama.

Allahua'alam bissawab
Barakallahuliwalakum
Wassalamualaikum wr wb

ACT

Tuesday, November 8, 2016

Galau

Assalamualaikum wr wb…

Telah 2 minggu ini gelisah datang, maksud hati tak hendak mencampuri  keramaian yang ada namun apa daya, begitu kuat gejolak menghantam hingga tak lagi kuasa memendam kata, semoga ada manfaat bagi kita semua dan tidak menjadi mudharat setelahnya… amiinn.

                            Aroma

Hampir satu bulan sudah aroma itu terpapar
Aroma Kebencian yang sungguh luar biasa
Menyengat dan menyesakkan udara
Dilepas oleh mereka yang  harusnya santun berkata
Oleh mereka yang didengar dan dipercaya

Aroma itu menyelinap, merasuk dan menyeruak
Menyusup di relung jiwa
Pada sudut kalbu yang tak terjaga
Menoreh menggurat akal dan logika
Meninggalkan luka menganga

Aroma itu menghunjam
Jauh ke dasar bumi terdalam
Menggelepar mengoyak menghantam
Membangunkan mereka yg tertidur didalam
Merintih dunia dalam kelam

Aroma itu melesat
Menggetarkan angkasa dengan kerasnya
Memenuhi semesta raya
Terhenyak penghuni langit karenanya
Bergemuruh semesta dalam cemasnya

Yaa Robbana…. Ampuni kami
Yaa Robbana…. Terangi hati kami

Yaa Robbana, beri  kekuatan
Pada para sahabat yang tak putus berjuang
Di sudut Musholla, di tepian Masjid, di keremangan Rubat
Yang tak henti tafakur dan berzikir
Yang memohonkan ampunan bagi kami semua

Yaa Robbana, beri  kekuatan
Pada Malaikatul Moqarrabin yang tak putus berjuang
Merayu Semesta Langit dan Bumi
Agar tak mengembalikan aroma benci
Yang dapat menjadi bencana dan azab bagi kami

Duhai Nurun ala Nurin
Duhai Asbabul asbab
Duhai Zat Yang Maha Kasih dan Maha Pengampun
Ampuni kami..ampuni kami..ampuni kami

Allahu’alam bissawab
Syai’un lillahi lahum
Barakallahu li walakum
Wassalamualaikum Wr Wb

Jakarta,  11 Nopember 2016

ACT

Wednesday, October 26, 2016

Dua Kalimah Syahadat

Syahadatain 

Syahadatain (2 persaksian) merupakan Pilar (Rukun) Islam yang pertama, dapat dipastikan semua yang mengaku beragama Islam hafal dengan kalimah pendek ini, bahkan anak saya yang baru kelas 1 SD (sekarang sudah kelas 2 SMP - wow ternyata sudah lama yah) setiap pagi meneriakkan kalimah ini yang mereka sebut ikrar.

Sudah ribuan lembar kertas dan buku dari para Masyaikh dan Ulama serta Cerdik Pandai yang mengupas dan membahas tentang ini, menandakan betapa pentingnya, bahkan Jibril as, khusus turun ke bumi untuk mengajarkan ini kepada para sahabat (Syarah arba'in an Nawawiah -2-).

Dalam hadist Qudsi Rasuulullah saw menyampaikan bahwa Allah swt berkata: "barang siapa bersyahadat, maka surga baginya", betapa dahsyat akibat dari kalimat ini sampai mencemaskan sahabat (Umar ra, dalam riwayat lain Jabir ra) yang segera mengusulkan pada Rasulullah agar jangan disampaikan dulu kepada umat, khawatir nanti ibadahnya berkurang.

Kalimah inilah yang tergantung di pintu surga, yang dibaca oleh Nabiullah Adam as. pada saat memohon ampun kepada Allah swt, oleh karenanya barang siapa yang tidak penah melafalkan kalimah ini selama hidupnya, maka surga tidak mengenalnya.

Kalimah ini adalah pass key menuju Allah swt, sehingga barang siapa melafalkannya maka :
  - Allah swt mengenalnya
  - Islam jadi agamanya 
  - Surga me-registernya (karena janji Allah)
  - Malaikat siap melayaninya (karena lebih sempurna/Ahsani takwim)
  - Alam semesta siap menerima perintahnya (karena khalifah di bumi/Khalifatul Ardh)

Itulah sebabnya dalam sehari minimal 9 (2+2+1+2+2) kali kita melafalkannya dalam tasyahud, sehingga setiap hari minimal 9 kali kita memperbaharui Islam kita (refresh tauhid).

Mari kita luruskan syahadat kita sambil menegakkan rukun lainnya, insya Allah topik selanjutnya akan kita bahas tentang "sudahkah kita ber-syahadat"

Allahualam bissawab

ACT

Thursday, October 20, 2016

Pola Makan Sehat (4 sehat 5 sempurna)


Assalamualaikum wr wb

Semoga Allah swt senantiasa melimpahkan barokah dan rahmatNya bagi kita semua, aammiinn.
Tulisan dibawah ini pernah saya muat di beberapa group Whats app yang saya ikuti, akan tetapi tidak ada yang merespon, mungkin tidak berkenan.

Kali ini saya coba mengulanginya di blog ini, semoga jadi manfaat baik bagi yang membaca wabil khusus bagi saya pribadi.

Sejak kecil kita telah belajar tentang makanan sehat, mulai dari 4 sehat 5 sempurna sampai bermacam-macam tips dari sisi kesehatan, kebugaran sampai pada kecantikan (maksudnya makanan yang berpengaruh pada penampakan, hehe). Ada seribu satu pola makan, mulai dari makanannya sendiri sampai kepada bagaimana cara membuat sampai cara memakannya. Ujung dari semua itu tidak lebih dan tidak kurang agar kita selalu sehat (menurut yang menulis).

Saya mencoba melihat dari sudut pandang lain mengenai makan dan makanan ini, yaitu dari sudut pandang Islam sebagai berikut.

Pola Makan Sehat untuk muslim :

  1.    Halal, pastikan bahwa makanan berasal dari harta yg halal, bukan hasil korupsi, mencuri atau tindakan negative lainnya, karena dapat menjadi trigger/pemicu untuk timbulnya penyakit seperti sombong, dengki, dendam, hasad dan hasud yang pada akhirnya menjadi penyebab penyakit-penyakit fisik akut.
  2.     Basmalah, mulailah dengan basmalah, karena Al Ikhlas mengajarkan kita bahwa Allah adalah 1 dan selainNya adalah 0, sehingga bila aktivitas kita tidak menyertakan Allah, jelas akan terjadi syntax error atau minimal tidak bermanfaat.
  3.     Syukur, bersyukurlah selalu, karena siapa tahu karena bersyukur, hari ini cuma makan sayur, besok bisa makan daging/ikan, kata Allah  : “ La insyakartum La adzidanakum”
  4.     Sehat, makanlah yang bermanfaat bagi tubuh kita, sebab yang buat orang lain sehat, belum tentu buat kita juga sehat, Tanya pada yg lebih tahu, dokter, dukun, orang tua, kakak atau siapa saja yg kita yakin bisa dipercaya.
  5.    Sempurna, Islam meminta kita agar Kaffah atau sempurna, maka sempurnakanlah makan dengan hamdalah, pujian pada Zat yang sangat patut kita puji.

Semoga bermanfaat, Allahu’alam bissawab

ACT

Monday, October 3, 2016

Menjelang 10 Muharram

Karbala 10 Muharram 61 H

Debu mengepul berterbangan, rombongan Sayyidina Husain ra. yg berjumlah 73 orang terdiri dari keluarga dan sahabat, juga terdapat anak2 dan perempuan dalam keadaan kehausan berhadapan dengan 4.000 tentara Syiah Kufah yg dipimpin abu ziyad. Pertempuran yg tidak seimbang itu disaksikan oleh Al Qasim bin Hasan bin Ali bin Abithalib (masih remaja, berkulit putih halus, berwajah tampan sehingga keluarganya memanggilnya si Wajah Rembulan) dari dalam tenda, karena saudara dan pamannya melarangnya untuk keluar ikut berperang. Tapi kemudian ia menyaksikan tentara  kufah sedang mengepung pamannya. Alqasim, putera Al-hasan bin Ali melihat bahaya besar yang sedang mengancam pamannya itu, segera ia menyerbu untuk melindungi pamannya itu. Padahal Alqasim sebenarnya belum layak untuk maju ke medan pertempuran. Ia masih seorang kanak-kanak dan usianya baru pada awal belasan tahun. Sitti Zainab yang melihat tindakan Alqasim itu segera berdiri untuk mencoba menghalang-halangi. Tetapi ternyata gerakannya kalah cepat dengan gerakan seorang prajurit Kufah yang mengayunkan pedangnya ke arah Alhusain r.a. Pedang besar itu berayun ke leher Alhusain r.a. sedang Alqasim yang kecil itu berusaha menahan tebasan tersebut dengan tangannya sambil berseru:

"Hai bedebah! Apakah engkau akan membunuh pamanku?"

Dengan mata kepalanya sendiri Sitti Zainab menyaksikan pedang besar yang hendak menebas leher Alhusain r.a. itu ternyata telah menebas tangan anak kecil tersebut. Sitti Zainab memekik melihat pemandangan yang mengerikan itu. Melihat salah satu tangannya putus, maka Alqasim berteriak kesakitan:

"Oh, ibu…, aduh ibu…" Ia kemudian jatuh tertelentang ke tanah. Mendengar keluh kesakitan anak itu Sitti Zainab kemudian menyahut dari jauh:

"Anakku! Aku datang, anakku!" Segera ia berlari mendekati Alqasim. Tetapi tiba-tiba ia menengadah dan melihat Alhusain r.a. sudah berdiri tegak di dekat kepala Alqasim. Berkatalah Alhusain r.a. kepada anak yang sudah kehilangan salah satu tangannya itu:

"Sabarlah, wahai putera saudaraku, menghadapi apa yang telah menimpa dirimu. Sebentar lagi engkau pasti akan bertemu dengan ayahmu dan orang-orang soleh yang bersama dengan ayahmu. Demi Allah, berat sekali bagi pamanmu ini untuk mendengar panggilanmu itu tanpa dapat memberikan pertolongan kepadamu. Demi Allah…, hari ini benar-benar hari yang banyak sekali dengan pembunuh dan sedikit sekali dengan penolong…"

Perlahan-lahan kemudian diangkatnya Alqasim dan didekapkannya di dadanya Sesudah itu anak yang juga telah meninggal dunia itu dilktakkan di samping putera-puteranya yang telah terlebih dahulu gugur.

Gugurlah kemudian satu per satu putera-putera saudara-saudara Alhusain r.a. yang lain laksana gugurnya bunga-bunga yang masih segar ditimpa kekeringan yang tiba-tiba menghiasi persada Karbala yang gersang dan kering itu. Al-Abbas, Ja'far, Abdullah, Usman, Muhammad Al-asghar dan Abubakar beserta kedua anak Sitti Zainab, masing-masing On dan Muhammad berguguran. Menyusul kemudian putera Alhasan bin Ali r.a., yaitu Abubakar dan putera paman Alhusain r.a., Aqil bin Abitholib, yaitu Ja'far, Abdurrahman dan Abdullah. Belum pernah pada suatu tempat demikian banyak yang gugur keluarga Rasul Allah s.a.w. pada waktu yang demikian singkat. Sebagian besar mereka itu adalah orang-orang yang masih sangat muda, bahkan anak-anak, bunga-bunga yang sedang kuncup.

Walaupun pertempuran makin tidak seimbang, tetapi perkelahian tidak kalah dahsyatnya. Sisa-sisa rombongan Alhusain r.a. yang makin kecil itu memberikan perlawanan yang makin sengit. Darah membasahi bumi Karbala. Udara dipenuhi oleh debu dan bau darah segar yang anyir. Burung-burung yang semula tidak nampak segera terbang berputar-putar di angkasa Karbala setelah mencium bau darah manusia yang segar itu. Perempuan-perempuan yang ada di kemah-kemah sudah tidak terdengar lagi tangisnya; airmata rupanya telah kering dan duka sudah terlalu mendalam. Segenap anggota keluarga Alhusain r.a. sekarang telah gugur semua. Pada saat itulah maka tiba-tiba sepuluh orang anggota pasukan Kufah maju menyerbu ke kemah kediaman Alhusain r.a. dengan tujuan untuk melakukan perampokan dan perampasan atas harta Alhusain r.a. yang masih ada. Mereka berpesta pora mengambili dan mengangkuti apa saja yang ada dalam kemah tersebut.

Melihat tindakan biadab itu, Alhusain r.a. segera meloncat dan menyerbu orang-orang yang sedang berpesta pora itu.

"Cilaka kalian. Kalau kalian sudah tidak punya agama lagi, berlakulah seperti orang merdeka yang berjiwa luhur dan jangan bertingkah laku seperti budak-budak belian yang berjiwa hina!" kata Alhusain r.a. dengan penuh kegeraman.

Kemarahan itu ternyata telah menaikkan lagi tenaga dan semangat Alhusain r.a. Serbuannya membuat kalang kabut mereka yang sedang berebut harta itu. Peristiwa ini merupakan puncak dari pertempuran Karbala. Tiga orang, Alhusain r.a. dan dua sahabatnya, berhadapan dengan 3.000 orang prajurit musuh.

GUGURNYA ALHUSAIN
Pertempuran di Karbala yang bermula sejak fajar itu berlangsung terus sampai petang. Pasukan kecil yang dipimpin oleh Alhusain r.a. makin habis. Ketika habis Asar tinggal 3 orang yang masih mampu memberikan perlawanan. Dan ketika sinar matahari sudah mulai melembut menjelang rembang petang, akhirnya tinggal Alhusain r.a. sendiri yang terus melakukan perlawanan. Seorang dikerubuti oleh tidak kurang dari 3.000 orang.

Ketika melihat bahwa dari rombongan Alhusain r.a. tinggal seorang, yaitu Alhusain r.a. sendiri, maka pasukan Ubaidillah ibn Ziyad yang sudah kerasukan setan tiba-tiba seperti ragu-ragu. Tetapi Alhusain r.a. tidak memperdulikan sikap musuhnya itu. Dengan pedang di tangan yang sudah penuh berlumuran darah, baju yang sudah lusuh, berdebu dan koyak-koyak serta muka hitam mengkilat karena keringat dan debu, Alhusain r.a. terus melakukan penyerangan. Siapa saja yang ada di hadapannya, pasukan pejalan kaki atau berkuda diserangnya. Bagaikan seekor harimau yang sudah luka disertai teriakan membesarkan nama Allah s.w.t., ia mengibaskan pedangnya ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.

Tak seorang pun di antara tentara Kufah yang beribu jumlahnya itu berani menyerbu dan mendekati. Mereka mencoba menghindar dan dari jarak agak jauh baru mereka melepaskan anak-anak panah. Petang itu medan Karbala seolah-olah kejatuhan hujan. Tetapi bukan hujan air. Yang dihujani adalah tubuh Alhusain r.a. seorang diri dan yang menghujani adalah anak-anak panah yang berdesing lepas dari busur-busur orang-orang Kufah itu. Demikian hebat anak panah menghujani tubuh cucu Rasul Allah s.a.w., sehingga orang yang menyaksikan peristiwa tersebut melihat Alhusain r.a. seolah-olah berselubung kulit landak.

Matahari makin condong ke barat, udara makin menyejuk. Tetapi hati Alhusain r.a. semakin panas dan juga darah panas mengalir dari luka-lukanya. Bagaimanapun hebat syaitan telah menyelusup ke dalam tubuh orang-orang Kufah itu, rupanya ada juga sebetik ketakutan di hati kecil mereka menghadapi turunan langsung Rasul Allah s.a.w. itu. Mereka dihinggapi kebimbangan untuk menjadi pembunuh Alhusain r.a.. Dalam keadaan yang berlarut-larut inilah kemudian seorang bernama Syammar dzil Jausyan, seorang pembenci ahlul-bait khususnya Alhusain r.a. akhirnya tidak dapat mengekang nafsu haus-darahnya. Ia makin panas melihat Alhusain r.a. tidak juga sudi menyerah, sedangkan kawan-kawannya ragu-ragu untuk memberikan "tembakan akhir" untuk mematikan Alhusain r.a. Dengan suara lantang ia kemudian berseru:

"Hayo, apa kalian! Kepung dan seranglah dengan serentak dia!"

Hujan anak panah makin menghebat. Kuda tunggangan Alhusain r.a. akhirnya tak dapat bertahan lagi dan jatuh tertelungkup dengan mengeluarkan ringkikan maut yang mengerikan. Tanpa memperdulikan kejatuhan kudanya, Alhusain r.a. kemudian tegak berdiri terus melanjutkan perlawanannya. Sekarang bukan lagi anak panah, tetapi tebasan pedang dan tusukan tombak bertubi-tubi menyerangnya dari segala jurusan. Darah membasahi seluruh tubuhnya. Jubah yang dikenakannya sudah berubah warna merah kecoklat-coklatan. Sehari ia bertempur tiada hentinya. Suatu dorongan ajaib rupanya telah membuat ia tidak kenal lelah dan tak ingat haus. Tetapi, bagaimanapun juga batas kekuatannya tidak bisa terlewati lagi. Sepucuk anak panah beracun tiba-tiba menancap dalam tubuhnya tepat mengenai jantungnya. Pertama kali orang mendengar ia mengeluarkan erangan kesakitan. Masih sempat ia memegang anak panah yang menancap itu dan dengan sisa tenaga yang masih ada ia mencabut anak panah tersebut sambil mengeluarkan suara mengerang, karena darah telah memenuhi kerongkongannya:

"Oh, Tuhanku, ya Ilahi, engkau tahu mereka telah membunuh putera nabi-Mu…, dan di dunia ini tiada putera nabi lain daripada aku…" Anak panah itu tercabut juga diikuti oleh darah yang menyembur. Badannya terasa makin lemah dan lesu. Akhirnya Alhusain r.a., putera Sitti Fatimah Azzahra, cucu Rasul Allah s.a.w. itu roboh mencium bumi Karbala yang sudah disirami oleh darah banyak ahlul-bait dan putera-putera Bani Hasyim.

Gugurlah cucu Rasul Allah s.a.w, itu setelah melakukan perlawanan mati-matian sampai pada detik yang terakhir. Suasana tiba-tiba hening. Burung-burung gagak pemakan mayat yang berterbangan di atas medan pertempuran Karbala dengan mengeluarkan suara-suara bergaok yang mengerikan. Juga anggota-anggota pasukan Umar bin Saad yang semula hiruk pikuk tiba-tiba berhenti berteriak-teriak dan menyaksikan rubuhnya putera Rasul Allah s.a.w. itu.

Peristiwa selanjutnya tak pantas untuk di kenang karena penuh dengan kebiadaban mereka yg mengaku sebagai muslim, akan tetapi dari dalam tenda terdengar teriakan lantang (suara Ruqaya atau Siti Zainab  ???) "Wahai Kaum Muslimin Saksikanlah bahwa Hari ini Kalian Menjadi YATIM dengan berpulangnya Sayyidina Husain, Menangislah..Menangislah kalian"

Bumi karbala sejak itu sampai saat ini berwarna merah, dan dilangit esoknya terjadi gerhana matahari total

Selamat Jalan Sayyidul Syahid
Salam Bagimu Cucu Rasulullah s.a.w
Salam Bagimu orang ke 5 dari Ahlul Qisa
Salam Bagimu Para Syuhada Karbala

Kami serahkan perhitungan hari ini kepada Allah swt, Dia yang Maha Membalas lagi Maha Mengetahui.

Barakallahu li walakum
Allahu 'alam bissawab

ACT

Wednesday, September 21, 2016

Qadisiyah 9


Kemenangan Pasukan Muslim / Qadisiyah 9
Paginya Sa’ad terlihat lega mengetahui pada perang malam itu pasukannya yang unggul, malam banjir darah itu dikenal dengan nama “Lailatul Harir” atau Malam yang Geram. Pasukan ini sudah 24 jam bertempur tapi tidak ada tanda-tanda mereka mau beristirahat, Terlihat Qa’qa sudah mengumpulkan lagi pasukannya, kemudian dia berpidato : ‘Kemenangan dalam pertempuran sebentar lagi ini ditangan pihak yang mendahului, Sabarlah sebentar, lalu kita menyerang lagi, kemenangan ditangan orang yang sabar dan tabah”.

Kemudian didahului dengan sekelompok perwira, gelombang Pasukan Muslim memasuki wilayah markas Pasukan Persia, gelombang pasukan ini terbagi 3 bagian, sayap kiri dan kanan serta tengah yang dikomandoi langsung oleh Qa’qa bin Amr. Pertempuran berlangsung sengit, saat terdengar azan zuhur terlihat Pasukan  Persia sudah kacau balau, Fairuzan dan Hormuzan di sayap kiri dan kanan sudah terdesak mundur, Pasukan Qa’qa sudah sampai didepan tenda Rustum, tetapi Rustum sudah melarikan diri bersama beberapa keledai yang membawa barang-barangnya. Hilal bin Al-qamah melihat dan kemudian mengejarnya, jatuh bangun Panglima Persia ini sebelum akhirnya tersungkur di sungai, segera Hilal menghampiri dan menebas lehernya, berakhirlah sepak terjang Panglima Persia yang ditakuti ini ditangan Hilal bin Al-qamah. Melihat panglimanya terbunuh, Jalinus menyerukan agar pasukannya mundur lewat bendungan yang melintasi sungai, akan tetapi bendungan tersebut runtuh dan menimbun 30.000 Pasukan Persia yang melintas diatasnya. Tercerai berailah Pasukan Persia, sisa pasukan yang ada mundur dan melarikan diri. Atas perintah Sa’ad, disebarlah pasukan pengejar agar sisa Pasukan Persia tidak dapat berkumpul lagi, Qa’qa dan Syurahbil memimpin pengejaran disusul pula oleh Zuhrah At-Tamimi beserta pasukannya. Sisa Pasukan Persia yang ditemukan sebagian besar ditawan dan sebagian lagi terbunuh karena melakukan perlawanan.

Berakhir sudah satu episode perang yang Maha Dahsyat dengan kemenangan ditangan Pasukan Muslim. Selama berbulan-bulan seluruh Jazirah menantikan akhir perang ini, dari Uzaib sampai ke Aden Abyan, dari Abella sampai Baitul Mukadas (Yerusalem). Berita gembira tersebut mengharu biru ditanah Arab, Hancurnya Persia adalah bukti Kebesaran Allah Azza wa Jalla, Imperium Majusi tersebut akhirnya runtuh ditangan Sa’ad dan teman-temannya, setelah selama ratusan tahun menguasai tanah-tanah di Jazirah bergantian dengan Imperium Romawi.

Catatan;
Perang Qadisiyah tidak berhenti di Qadisiyah saja, sejarah mencatat Pasukan Persia selanjutnya dikejar sampai ke Mada'in (Ibukotanya) bahkan terdorong jauh sampai ke daerah Samarkand sekarang.

Perang ini tidaklah terlalu populer dikalangan Sejarawan Islam saat ini, karena dipicu oleh sikap Chauvinism Pan Arabic, dalam konteks yang sama Sejarawan Islam juga melupakan Perang Hittin, yaitu perang dimana Salahuddin Al Ayyubi (Saladin) menghancurkan Pasukan Salib dan membebaskan Yerusalem. Kedua perang tersebut di motori oleh “bukan Arab”, dimana Musanna Bin Harisah adalah orang Bahrain dan Salahuddin adalah orang Kurdi.  Betapa sedih kita melihat bahwa yang mengangkat Perang Hittin ke layar lebar dengan judul “Kingdom of Heaven” bukanlah "kita".

Salah satu sebab mereka dilupakan juga adalah simpul persaudaraan yang luar biasa, Pasukan Musanna bin Harisah merupakan pasukan campuran Muslim dan Nasrani, sementara Salahuddin Al Ayyubi menunjukkan kebesarannya dengan mengampuni sisa Pasukan Salib dan membiarkan mereka keluar dari Yerusalem dengan aman, padahal sejarah mencatat saat mereka memasuki Yerusalem, banjir darah didalam kota bagaikan anak sungai yang merupakan darah Muslim dan Yahudi.

Allhu’alam bissawab
Barakallahu liwalakum, wassalamualaikum wr wb

Taken from                         :  Umar Ibn Khattab by Muhammad Husain Haekal
Translate by                       :  Ali Audah

Edit & Re-touch by          :  Ilalang

Qadisiyah 8


Perang Hari Ketiga “Amas” / Qadisiyah 8

Pagi Hari Ketiga kembali kedua pasukan ini sibuk membereskan jenazah rekan-rekannya, 2.000 Pasukan Muslim syahid, sementara 10.000 Pasukan Persia tewas pada perang Hari Kedua tersebut. Saat Fajar terlihat Qa’qa berdiri dibelakang pasukannya, tidak lama seorang berkuda datang menghampirinya mengabarkan bahwa induk pasukannya 5.000 prajurit yang dimobilisasi dari Damsyik dipimpin Hasyim bin Utbah telah sampai. Hasyim bin Utbah sendiri yang memimpin pasukan bantuan ini maju kedepan didampingi Qais bin Hubairah. Pasukan Persia sendiri juga telah mendapatkan bantuan Pasukan Pengawal Istana yang dikirimkan oleh Kisra untuk membantu Rustum, Pasukan Gajah yang tidak banyak berperan akibat porak poranda saat Hari Pertama kini telah siap maju kembali ke pertempuran. Kedua pasukan kini dilanda semangat yang sangat tinggi karena kesiapan masing-masing pihak dan datangnya bala bantuan.

Perang berlangsung sengit, Pasukan Gajah Persia dan Pasukan Berkuda Muslim silih berganti maju dan mundur, tampak Pasukan Muslim mulai tercerai berai dihantam Pasukan Gajah, Sa’ad bertanya kepada tawanan Persia yang berada dalam tahanannya bagaimana cara menghadapi gajah, mereka menjawab, kelamahannya pada mata dan belalainya. Kemudian dia mengirimkan pesan kepada Qa’qa dan Asim : “wakililah saya mengahadapi Gajah Putih itu, serang mata dan belalainya”. Segera Qa’qa dan Asim turun dari kudanya menghampiri Gajah Putih, Qa’qa menancapkan tombak pada matanya sementara Asim menebas belalainya. Sontak gajah tersebut berteriak kesakitan, berbalik mundur mengamuki Pasukan Persia dibelakangnya, kemudian menceburkan diri ke sungai. Melihat itu Pasukan Muslim memakai cara yang sama untuk menghadapi Pasukan Gajah, terlihat Pasukan Gajah mengamuk diantara Pasukan Persia, menghajar semua yang ada didekatnya sebelum akhirnya menceburkan diri ke sungai dan mati atau lari tak tentu arah. Tanpa Pasukan Gajah ternyata Pasukan Persia tetap semangat, mengingat mereka masih unggul dalam jumlah pasukan, demikian peperangan kembali berlangsung dengan sengit, debu mengepul menutupi medan perang, sudah tak jelas lagi mana yang menang dan yang kalah,  peperangan terus berlangsung sampai menjelang malam. Pertempuran Hari Ketiga ini dikenal dengan Pertempuran Amas.


Menjelang malam, Sa’ad memerintahkan Tulaihah dan Amr dengan membawa pasukan kecil untuk memeriksa bagian sungai yang dangkal, mengantisipasi kalau ada pasukan Persia yang menyusup, sampai disana mereka tidak menemukan siapa-siapa, Tulaihah tergoda begitu melihat Markas Pasukan Persia, sebelumnya dia pernah menyusup sendirian dan berhasil. Mengambil tempat dibelakang markas, Tulaihah bertakbir 3 kali, mendengar takbir tersebut Pasukan Persia segera menyusun barisan dan menyangka Pasukan Muslim menyerang. Pergerakan pada malam itu terlihat oleh Qa’qa, tanpa minta izin pada Sa’ad, dia memimpin pasukannya bergerak kearah Tualihah. Sa’ad melihat hal tersebut dari kejauhan dan seketika berdoa : “Allahuma Ya Allah, ampuni dia, berikan pertolongan kepadanya. Sudah kuizinkan dia walaupun dia tidak minta izin kepadaku”. Tak lama Sa’ad memohonkan pengampunan untuk mereka semua dan bertakbir 3 kali, bergeraklah berturut-turut pasukan Banu Asad, Banu Nakha’, Banu Bajilah dan Kabilah Kindah, api peperangan segera berkobar disekitar Qa’qa, gemerincing pedang dan teriakan bercampur baur dikegelapan, semakin malam semakin dahsyat, tidak ada satupun pasukan yang tidur pada malam itu sampai pagi menjelang dimana pasukan sudah kembali ke kabilah masing-masing.

bersambung.........................................

Sejarah

  Bismillahirrahmanirrahim… Sejarah Sejarah adalah cerita tentang masa lalu, bisa jadi tentang kebaikan atau keburukan, kemegahan atau k...